Sabtu, 21 Januari 2012

Rain Over Me by Arini Putri


"Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau.

Namun, ketika dia hadir dalam hidupmu—di antara kita—aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan kepadamu. 

Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu—tapi..., bagaimana denganku? Bagaimana caraku bahagia tanpa dirimu? "


***
Yuna adalah seorang gadis Indonesia yang menjadi adik tiri Kim Hyu-Bin. Kim Hyu-Bin, seorang anak laki-laki yang tampan dan sering berkelahi di sekolah, tetapi ayahnya adalah orang yang sukses dalam menjalani bisnis restoran di Korea. Di ceritakan bagaimana indahnya masa kecil Yuna dan Kim-Hyu-Bin; memandang indahnya senja, berangkat sekolah bersama, belajar bersepeda. Hingga seperti mimpi buruk berubah menjadi kenyataan; Yuna harus kembali ke Indonesia. Tentu saja menjadi pukulan yang hebat untuk Kim Hyu-Bin.

Lalu momen demi momen yang manis dalam buku ini selalu membuat saya hanyut. Ceritanya begitu mengalir dengan setting tempat di Korea. Perubahan sikap Kim Hyu-Bin dalam novel ini membuat saya tersenyum, hatinya yang begitu dingin mampu meleleh dengan hadirnya cinta di antaranya. Yuna yang memiliki rasa lebih dari seorang ‘adik’, membuat konflik yang benar-benar menguras emosi pembaca. Sikap Han Chae-Rin juga membuat saya terkikik, prinsipnya dalam menilai pria kaya dalam sisi negatif juga lenyap saat tokoh Kim Hyu-Bin hadir dalam hari-harinya, padahal seorang lelaki tak kalah kayanya begitu menggilai dirinya.

Usaha seorang Yoon Jeon-Seuk patut di acungi jempol. Usaha untuk mendapatkan seorang Han Chae-Rin benar-benar hebat. Tokoh lelaki yang sangat tegar, mencoba sekuat tenaga melupakan cintanya itu, dan akhirnya bertemu seseorang yang hampir memiliki nasib yang sama. Bersama dengan teman seperjuangannya itu mereka mencoba bangkit, bersama. Konflik demi konflik, momen demi momen dalam buku ini menghasilkan sebuah buku yang sangat luar biasa.

Tujuan novel ini sederhana, membuat kenangan tersendiri saat selesai membacanya dan membuat pembaca tersenyum saat membaca akhir ceritanya.” Kalimat ini (kalau tidak salah tulisannya seperti ini) di bagian “Thanks to” ini saya wujudkan. Ya, novel ini begitu mengesankan, dan bibir saya tak tahan untuk membentuk sebuah senyuman saat membaca ending dari buku ini. Buku yang sangat indah dari mba Arini Putri! Keep writing dan sukses dengan karya-karya selanjutnya.



Sabtu, 14 Januari 2012

Sebotol Hujan Rindu


Aku membuka pintu kamarku dengan malas-malasan, lalu menutupnya. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan memandang langit-langit kamar yang putih. Aku jadi ingat aku belum mandi sore. Dengan cepat aku melangkah ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Rasa saat setelah mandi mampu membuatku menjadi sedikit segar. Saat aku ingin mencari bedak, aku melangkah ke meja rias dan mengambil benda apa yang aku butuhkan. Saat aku ingin meraih bedak tersebut mataku menatap lekat benda yang sudah berdebu. ‘Apa itu?’ pikirku, sambil mengambil benda yang berdebu tersebut, dan membatalkan rencana untuk berbedak sejenak.


Saat berhasil meraih benda berdebu itu, aku hanya bisa menatap benda tersebut dengan nanar. Sebotol parfum. Entah sudah berapa lama parfum ini di sini hingga bisa berdebu seperti ini. Aku membersihkan debunya bermaksud untuk melihat parfum merk apa ini. Saat tangan ini berhasil menyingkirkan debu yang menempel, kini terlihat begitu jelas. Aku terkesiap saat tulisan merk itu dapat di baca dengan mataku, Tiba-tiba dadaku terasa sesak, degup janungku berdetak lebih cepat. Dengan tangan yang bergetar hebat aku memberanikan diri untuk mencium aromanya.

“Cssttt”

Aroma coklat yang kuat menyambut hidungku seketika. Dan saat itu juga tanganku bertambah bergetar. Baunya begitu kuat, mampu membuka lagi kotak memori di otakku. Ya, parfum ini miliknya. Seseorang yang dulu begitu istimewa di sudut hatiku. Bersama dengan itu juga kenangan anatara aku dan dirinya menyeruak tanpa ampun, menginjak-injak hati ini, semakin sesak. Tanpa di sadari air mata terbit di pelupuk mataku. Mataku mengabur menerawang jauh, mengingatkanku akan sebuah masa.

***

Aku menatap papan tulis putih itu dengan serius. Mengamati angka-angka yang tertera di sana. Otakku memikirkan mengapa angka tersebut ada di sana, dan mengapa itu bisa begitu. Rumus-rumus itu membuat jalan pikiranku menjadi kusut. Otak ini sudah menyerah bagaimana asal-muasal angka tersebut. Aku menghela napas dan menyenderkan punggung ke sandarannya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kelas tempat kursusku. Semuanya melihat papan tulis lalu menuliskannya ke dalam buku mereka masing-masing. Situasi kursus yang membosankan, menurutku.

“Brak!”

Tiba-tiba ada sosok yang menjulang membuka pintu ruang kelasku dengan napas yang tersengal-sengal. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas dan pandangannya berhenti di guru lesku. Aku bisa melihat dia begitu khawatir. Dia mengambil oksigen di sekitarnya, seakan-akan dia akan kehilangan jika tidak menghirupnya cepat-cepat.

“Maaf bu saya terlambat. Tadi macet banget!” jelasnya di antara napasnya yang terburu-buru. Aku juga memperhatikan mukanya yang merah karena berlari dari tempat parkir ke kelas ini. Tiba-tiba seulas senyum terkembang di mulutku.

Dia lalu berjalan ke bangku belakang dan mulai mengeluarkan bukunya. Saat dia akan melihat ke papan tulis, matanya bertumbu dengan mataku. Aku merasa kaget karena tertangkap basah diam-diam memperhatikannya langsung menghadap ke depan dengan pipi memanas.
***
Aku hanya menatap pemandangan di depanku dengan perasaan kesal. Air turun dari langit dengan derasnya saat waktu kursusku telah berakhir. Saat tadi terpenjara dalam rumus-rumus yang rumit, kini terpenjara dalam hujan yang deras. Karena tidak mau mengambil resiko aku hanya bisa duduk dengan lunglai di kursi tunggu. Dinginnya hujan memelukku begitu erat. Aku hanya bisa mengencangkan jaket yang aku gunakan.

Tiba-tiba sebuah mobil jazz biru berhenti di depanku. Aku terlihat bingung sambil melihat ke arah jendela mobil. Kupikir orang yang menjemput, tapi saat jendela mobil tersebut turun, aku tersentak. Dia yang tadi terlambat. Ah, aku belum tau namanya, ngomong-ngomong.

“Rumah lo di mana?” tanyanya setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara bising yang hujan ciptakan. Aku hanya terdiam sejenak, masih belum sadar. ‘Dia menanyakan rumahku?’ kataku dalam hati.

“Daerah Dago atas, kenapa emang?” jawabku tak kalah keras. Aku bisa melihat senyumnya merekah. Itu senyum pertama yang aku hilat dari dirinya, dia tampan.

“Baguslah! Rumah gue searah ko, ayo masuk, gue antar lo pulang.”

“Hah? Ga salah? Gue ga kenal sama lo, main ajak pulang aja. Sekarang ini lagi musim penculikan tau!” jawabku kesal sembari membuang muka. Dia hanya mendengus geli. Lalu selanjutnya aku hanya terkejut melihat dia keluar dari mobilnya, berlari menerobos hujan yang deras, lalu dia ada di depanku sukses dengan tubuhnya yang basah kuyup.

“Lo ngapain sih?” Ujarku setengah berteriak kesal dengan kelakuannya ini. Dia hanya tersenyum simpul, seolah ini bukan masalah yang penting.

“Lo mikir penculik itu ikutan kursus?” tanyanya mengabaikan ucapanku tadi.

“Ya…. Ga ada salahnya juga kan jaga-jaga.” Dia menyeruak dengan tawanya. Ya, kali ini juga dia tertawa di depanku. Aku rekam suara tawanya dan menyimpannya baik-baik dalam ingatan.

“Gue Nico.” Katanya sambil menyodorkan tangannya. Aku melihat tangan tersebut sebentar, lalu meraihnya dengan ragu.

“Gue Dina.” Ada kehangatan yang menjalar saat persentuhan kulit kami berdua. Aku tenggelam dalam pesona matanya, jernih. Saat tangan kami berpisah, ada keinginan masih ingin menggenggamnya.

“Jadi? Lo mau nginep di sini atau mau di anter sama cowo ganteng?” katanya kepedean tingkat dewa. Aku memukul pundaknya.

“Eh, tapi gue ga bawa payung. Jadi gue ga bisa bukain pintu bak seorang pangeran mengantarkan putrinya menuju istana.”  Aku terbahak mendengarnya, ternyata dia orang yang cukup menyenangkan.

“Emangnya penting ya yang kayak begituan? Gimana kalo kita lomba lari dari sini sampai mobil?” Tantangku dengan wajah jahil, dia berpikir dengan mengerutkan dahinya.

“Siapa takut?” katanya mantap, sambil mengambil ancang-ancang berlari.

“Siap? Satu…dua…tiga!” sontak kami berdua berlari menerobos hujan yang masih deras. Aku begitu bersemangat akan memenangkan lomba kecil ini. Karena terlalu bersemangat aku tak dapat mengenali air yang menggenang tersebut ternyata sebuah lobang, otomatis aku tersungkur. Nico yang hampir menggapai pintu mobil melihat ke belakang, dan menahan tawa. Aku berusaha berdiri, sampai sebuah tangan menarik lenganku lembut. Kami berdiri berbarengan, di antara derasnya hujan kami menikmatinya. Aku menatap lekat matanya yang jernih itu. Lalu tiba-tiba kami tertawa berbarengan.

“Lo sih! Lari ga liat-liat! Udah ah ayo, liat kan lo jadi basah kuyup!” cecarnya, seraya kami berjalan menuju mobilnya.

“Lo juga basah kuyup.” Kataku membalasnya. Tiba-tiba dia berhenti, karena refleks aku menabrak punggungnya. Lalu dia berbalik dan menatapku.

“Lo tau? Lo itu ga bisa di kasih tau ya? Dasar keras kepala!” katanya agak keras sambil memegang pucuk kepalaku. Rasa dinginnya hujan tiba-tiba lenyap, seakan ada kehangatan yang mengguyur.

“Ayo! Lama-lama kita bisa masuk angin gara-gara terlalu lama main hujan-hujanan.” Katanya sambil menarikku ke dalam mobilnya. Aku membasahi jok mobilnya, tapi dia tidak begitu memikirkannya. Saat kami berdua sudah duduk di mobil, dis tiba-tiba membuka kaosnya yang basah kuyup dengan cepat dan mengambil kaos yang baru yang sudah dia sediakan di jok belakang, dan memakainya dengan cepat. Aku termangu melihatnya.

“Astaga! Lo ini ga malu apa? Gue ini cewe!”

“Terus? Masalah? Bilang aja seneng liat yang begituan.” Balasnya polos.

“IH!!!” kataku sambil memukulnya bertubi-tubi, sampai dia mengatakan kata ampun. Aku begitu kesal dengan sikapnya ini. Tapi, sungguh. Ini pertama kali kami bertemu, berkenalan, tapi sudah banyak hal yang tak terduga terjadi. Dia ini cowo yang paling aneh yang pernah kutemui.

Kukira saat dia menyalakan mobil kami akan langsung melesat meninggalkan temapat kursus kami. Tapi setelah menyalakan mobilnya dia seperti teringat sesuatu lalu mengambil sebuah benda dari jok belakangnya, aku haya bisa memperhatikannya. Dia memegang sebotol parfum laki-laki, sebuah senyum berkembang di wajahnya, melihat perfume itu. Aku hanya bisa mengerutkan dahi, terlihat kebingungan. Dia langsung menyemprotkan isinya ke seluruh badannya.

“Csssttt” seketika aroma maskulin yang berasal dari parfumenya menyebar dengan cepat, sehingga tak ada ruang untuk tidak menghirup aromanya yang maskulin.

“Uhuk! Uhuk!” aku terbatuk-batuk begitu bau parfum tersebut memenuhi isi mobilnya.

“Kenapa? Harumnya enak ko rasa coklat.” Katanya riang seakan dia sedang memamerkan mainan terbarunya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.

“Engga. Baunya ga enak, aku ga suka tuh” jawabku sambil melihat tangan kesal dan menatap ke arah depan. Aku masih bisa menghirup aroma parfumnya ini, begitu maskulin.

“Masa? Coba cium sekali lagi deh, enak ko baunya!” katanya memberikan parfumnya padaku, aku menatap parfumnya dengan nanar.

“Oh ya. Buat kamu aja sekalian, soalnya yang itu udah mau habis, lagian aku udah beli yang baru ko.” Katanya seraya menyimpan parfumnya itu di atas pangkuanku. Setelah itu baru kami meninggalkan tempat kursus kami.

Bagiku hari itu adalah hari paling aneh yang bisa ku rasakan. Waktu demi waktu kamu dan aku tanpa dikira menggoreskan tinta diatas kertas yang begitu putih, menyusun kenangan yang kita lalui bersama. Kini aku terbiasa dengan parfumnya yang begitu maskulin yang menyambut hidupku saat aku memasuki mobilnya. Lama-lama aku terbiasa dengan hadirnya di sisiku. Aku bisa mengenal kehangatan, kehangatan yang di berikan olehmu. 

Aku belajar menari di bawah hujan dan diajar untuk mengenal apa itu kebahagiaan. Kami tetap berusaha tertawa di sela kesedihan yang menerpa. Dan kita membangun sebuah kisah, kisah yang begitu banyak mimpi yang kita buat. Merajut sebuah kenangan yang begitu manis, melipatnya dan menyimpannya di kotak hati kami masing-masing.
***
Ya, tentu saja aku masih ingat pertemuan pertama kita. Pertemuan yang indah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kamu menghilang saat aku menunggumu di ruang kelas. Aku tersadar bahwa hari itu aku hanya menunggu kekosongan. Aku tidak pernah terlihat batang hidungnya lagi. Dia meninggalkan aku dengan rumus-rumus yang berjumpalitan di papan tulis putih itu. Padahal aku sudah menatap pintu kelas berharap ada sosokmu di balik pintu itu, tapi kau tak kunjung datang.

Aku masih memegang erat botol parfum yang kutemukan tadi. Menghirup lagi aromanya dalam-dalam, mengingat-ingat aroma tubuhnya yang dapat kugapai saat kesedihan melanda. Kukira kita akan memiliki kisah dengan akhir seperti novel-novel yang pernah ku baca. Aku tersadar bahwa aku begitu merindukan sosoknya. Aku selalu tenggelam dalam lautan rindu yang aku ciptakan sendiri.

Tapi inilah akhir ceritanya, sudah benar-benar berakhir. Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk menapaki jalan yang sama sambil bertautan tangan. Ada kalanya tautan tangan itu harus terlepas. Mungkin di jalanku aku akan menemukan sosok yang akan mengganti dirimu, tapi itu belum pasti.

Jika memang kamulah orang yang tepat untukku, Tuhan akan membuat sebuah jalan yang menghubungkan jalanmu dan jalanku di ujung sana, di satu titik di mana kita akan bertemu lagi, berbekal dengan kerinduan dan cinta.

Aku mengembalikan parfum itu ke tempat asalnya. Berusaha tersenyum melihatnya, tapi hanya senyum lirih yang aku ciptakan. Aku memandang ke luar jendela, hujan deras. Aku dapat melihat kamu dengan senyummu itu, Nico. Hanya tawanya yang menggaung dalam pikiranku, dan wajahnya yang dengan jelas memaparkan senyumnya yang menawan. Aku menciptakan hujanku sendiri, hujan untukumu. Hujan itu adalah air mata.