Sabtu, 31 Desember 2011

Sebuah Perpisahan

Mungkin kini akhir dari cerita kita, mungkin ini memang sudah berakhir. Aku berpegang teguh dengan perasaanku dan kamu memegang prinsipmu sendiri. Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk menapaki jalan yang sama sambil bertautan tangan. Ada kalanya tautan tangan itu harus terlepas karena sebuah ketidaksamaan. Ketidaksamaan pikiran, ketidaksamaan pendapat, dan ketidaksamaan perasaan.

Tidak ada yang harus di bohongi sekarang, selama ini aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika mata ini terbuka di pagi hari, sapaan selamat pagi darimu mengalun lembut mengelus gendang telingaku. Saat siang hari di sela kesibukanmu kamu masih sempat mengingatkanku untuk makan. Ketika sore datang telingaku selalu ada untukmu mendengarkan cerita serumu bersama dengan lelahmu yang bahagia. Begitu banyak kebahagiaan yang kita ciptakan, begitu banyak kenangan yang kita buat, begitu banyak mimpi yang kita bangun. Sampai sebuah perpisahan melindas habisa semuanya, hanya menyisakan sayatan luka di hati.

Dan akhirnya saat itu mendatangi kita lalu pergi meninggalkan kita dengan hati yang sudah terpisah. Sebuah perpisahan adalah tahap yang paling tidak di inginkan oleh siapapun, termasuk kita. Kita harus menapaki jalan masing-masing. Aku temukan jalanku dan kamu menemukan jalanmu. Mungkin nanti bayang-bayangmu akan mengiang bersamaan dengan rindu yang menginjak-injak hati ini. Mau tidak mau memori tentangmu harus ku hapus, agar aku bisa melanjutkan semuanya tanpa bayang-bayangmu yang menghantui dan kenangan yang menyeruak dari otakku.

Jika memang kamulah orang yang tepat untukku, Tuhan akan membuat sebuah jalan yang menghubungkan jalanmu dan jalanku di ujung sana, di satu titik di mana kita akan bertemu lagi, berbekal dengan kerinduan dan cinta. Belajar mengikhlaskan, setelah ini akan ada sebuah kebahagiaan yang mengecup kamu bertubi-tubi menggetarkan kembali hatimu dan hatiku. Dan nanti semua kembali dari awal akan ada sebuah pertemuan, sebuah perkenalan, sebuah kisah manis, dan sebuah perpisahan. Itulah siklusnya semua akan kembali ke titik awal.

Jalani dan nikmati semuanya. Belajar mengikhlaskan, mungkin setelah ini akan ada seseorang yang menyelinap masuk dalam hatimu dan hatiku dan memberikan sebuah kehangatan yang akan menemani. Tidak semua perpisahan mendiskripsikan sebuah kesedihan, sebuah penyesalan. Tidak ada yang harus di sesali dari sebuah pertemuan manis kita, kita bahagia di buatnya. Syukurilah, bahwa kita sudah di pertemukan, ini bukan keinginan kita, ini sebuah rencana yang sudah di siapkan oleh Tuhan, jalanilah.

Dibalik sebuah pertemuan kita, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Sebuah kebersamaan, sebuah kepercayaan, sebuah kebahagiaan, sebuah kehangatan, semuanya akan menjadi pelajaran untukmu dan untukku. Seiring waktu berlalu ini semua akan menjadi sebuah kenangan yang sudah di simpan manis dalam kotak memori kita masing-masing.

-Ntsy :)




Selasa, 27 Desember 2011

Mempunyai Harapan dan Berpegang pada Janjimu

Lihatlah ini, bulir-bulir hujan yang menemaniku sekarang. Bulir-bulir yang membuka luka di hati ini. Luka yang kamu lukiskan padaku. Kehilangan kamu seperti kebahagiaanku kamu ambil semuanya. Kenapa aku tidak siap? Karena kamu begitu cepat meninggalkanku. Waktu terus berlalu tapi aku tetap mau menunggumu di sini. Entah kekuatan magis apa yang memelukku begitu erat. Tapi aku masih ingat pesanmu waktu itu. ‘Jika aku pergi dari hadapanmu, tunggulah aku, aku akan kembali’

Aku bersungguh-sungguh menunggumu, untukmu. Ada yang pernah bilang bila berani mencintai sesorang kita harus berani menerima bagaimana jika cinta itu pergi. Ini kah rasanya bagaimana jika cinta itu pergi? Apa sih sebenarnya cinta itu? Semua orang bilang mereka punya cinta. Sesakit-sakitnya cinta, cinta begitu banyak di incar semua orang, semua orang membutuhkannya. Begitu juga dengan diriku, aku mencarimu, menunggumu, membutuhkanmu.

Kukira seiring berjalannya waktu perasaanku akan meluntur. Kenyataannya tidak, seiring berjalannya waktu kerinduan menggerogoti labirin di hatiku, labirin yang penuh dengan kehampaan. Kamu yang mengajarkanku bagaimana berimimpi, kamu yang mengajarkanku bagaimana manisnya cinta itu, kamu yang mengajarkanku bagaimana kerinduan seseorang yang menyesakkan. Aku bisa merasakannya sekaligus.

Hatiku masih membara tentang dirimu. Hatiku masih di warnai tentang dirimu. Hatiku masih menunggumu di sini. Jangan biarkan aku yang sudah menunggumu di sini dengan harapan dan janjimu itu di bayar dengan kepergianmu tanpa pamit, tanpa sebuah pengakuan.

Begitu aku merindukan tatapan lembut ketika mataku bertabrakan dengan tatapanmu. Begitu aku merindukan suara tawamu ketika kesedihan menerpaku, kau mencoba menghiburku. Begitu aku merindukan mimpi-mimpi yang kita rancang sendiri. Begitu aku merindukan tangan yang kokoh menyelimuti tanganku.

Bulir-bulir air ini menambah kerinduanku akan dirimu. Entah kamu ada di mana sekarang.  Gunung-gunung, pulau-pulau, samudra sekalipun yang bisa memisahkan kita, tapi hati ini begitu terpaut akan dirimu di sana. Tahu-tahu kamu selalu hadir dalam baris doaku. Tahu-tahu kamu begitu penting saat mata ini terbuka di pagi hari. Tahu-tahu kamu yang menjadi penyemangat hari-hariku.

Ingatkah kamu saat kita sama-sama menari di bawah rinai hujan? Ingatkah kamu saat kesedihan yang pekat kita masih bisa tertawa bersama? Ingatkah kamu saat kita sama-sama membicarakan kehidupan masing-masing ada antusiasme di mata kita masing-masing?

Hujan yang mengundang menetesnya air mata, yang membuka lubang akan dirimu, yang mengingatkan kembali bahwa kamu tak kunjung datang. Sebuah pertemuan akan selalu ada sebuah perpisahan. Apakah cinta juga begitu? Saat menemukan cinta tersebut cinta itu berpisah, pergi tanpa pamit.

Aku hanya punya sebuah harapan dan berpegang dengan janjimu. Aku menunggumu di sini. Hatiku masih membara akan dirimu. Aku menunggu sebuah pengakuan yang akan keluar dari bibirmu. Dan bulir-bulir hujan ini akan tetap setia menemaniku sampa kamu menemukanku kembali.

-Ntsy

Senin, 26 Desember 2011

Aku Bisa Apa Jika Kamu Sudah Bahagia?


Aku tak mampu untuk melihat dirimu yang begini. Menangisi seseorang yang sudah menyakitimu. Kamu tetap mengharapkannya, walaupun dia tidak mencintaimu lagi. Tidakkah kamu menyayangi air matamu untuk seseorang tersebut? Apakah kamu berpikir lelaki di dunia ini hanya dirinya? Seakan tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari dirinya.

Setelah itu kamu akan menutup dirimu. Seakan dunia ini adalah duniamu sendiri, tidak ada orang lain dalamnya. Kamu mempunyai prinsip bahwa orang lain tidak pantas untuk kehidupanmu. Aku mencoba untuk menghiburmu, mencoba untuk keluar dari belenggu hampa yang memelukmu. Tapi kamu tetap nyaman dengan dunia yang seperti itu. Aku mencoba sabar menghadapimu.

Aku tetap percaya bahwa suatu saat nanti kamu akan menemukan sebuah kebahagiaan di luar sana. Maka dari itu aku mencoba menuntun kamu ke kebahagiaan tersebut. Sesorang akan menunjukkan kebahgiaan tersebut. Kebahagiaan yang kamu butuhkan. Mengapa kamu begitu ketakutan dengan kehidupan di luar? Aku tahu kesedihan tersebut masih membeleggumu, mengurungmu.

Semua ini hanya sementara waktu, percayalah. Ketika kamu menemukan seseorang yang begitu mencintaimu, kamu akan bahagia kembali. Lalu kamu akan melupakanku yang sudah menemanimu dan kesedihanmu tersebut. Tanpa kusadari aku begitu sayang padamu, sampai aku membiarkanmu bahagia dengan orang lain. Tapi kamu bahagia kan? Aku bisa apa? Jika kamu sudah bahagia dengan dirinya, ya sudah.
Di luar sana akan ada seseorang yang akan memberikan kebahgiaan yang kamu perlukan. Saat kamu begitu antusias dengan kehidupanmu, kamu lupa akan aku. Aku yang selalu ada di sini, di dekatmu, bukan di luar sana. Aku akan memberikan apa saja jika kamu sadar akan makna aku dalam dirimu.

Ketika kekhawatiran menyelimutimu, aku akan menjadi orang bijak yang mengatakan tidak ada hal yang harus di khawatirkan. Aku memang pengecut, tidak mengatakan bagaimana perasaanku padamu. Karena kamu begitu sayang akan kehidupanmu yang sekarang. Aku akan begitu antusias jika kamu menceritakan lelaki yang baru saja kamu kencani. Walaupun ada rasa nyeri di hati ini, saat kamu menceritakan betapa mesranya dirinya. Walaupun ada rasa sesak, saat dirinya memperlakukan dirimu bagaikan seorang putri.

Aku hanya bisa memandang kebahagiaanmu, sedangkan kebahagiaanku ada pada dirimu. Aku hanya bisa berkata bahwa aku senang jika kamu merasa bahagia. Aku hanya bisa mengusap air matamu yang jatuh saat kesedihan menerpamu. Semuanya aku hanya bisa, tidak lebih. Aku akan melakukan segalanya. Apa saja. Asal kebahgiaan tersebut selalu ada untukmu. Aku hanya bisa melengkungkan bibir, dengan hati yang tergores.

-Ntsy

Minggu, 25 Desember 2011

Aku Sadar Karena Dirimu

“Kamu egois tau?!” bentaknya.

“Maksud kamu apaan sih?” tanyaku masih tidak mengerti.

“Aku capek dengan semua kelakuan kamu!” katanya sambil membentangkan jarak antara aku dan dirinya.

“Kelakuan aku yang mana?!” kataku dengan suara naik satu oktaf karena permainan kata ini.

“Semua kelakuan kamu sama aku! Kamu mau aku begini dan begitu. Kamu selalu marah dengan hal-hal kecil yang sudah aku perbuat. Kamu selalu melakukan apa saja yang kamu perbuat tanpa pendapatku.” Akhirnya ada penjelasan yang bisa aku serap dari pembicaraan ini. Aku tatap matanya, mencari kesungguhan di sana. Aku memperhatikan pergerakan emosi di wajahnya, mencari kejujuran di sana. Hening melingkupi kami berdua. Dia laki-laki yang aku cintai dalam hidupku. Dan baru kali ini dia mengungkapkan hal seperti ini. Tidak setuju dengan sikapku.

“Apa ini berarti kamu berhenti mencintaiku?” tanyaku dengan suara getir, aku berusaha terlihat kuat.

“Aku terus-menerus mencoba melindungi perasaanmu, walaupun perasaanku tak akan lindungi, demi kamu.” Lanjutku masih dengan suara getir.

“Aku berkata seperti itu bukan karena aku tidak sayang sama kamu. Aku hanya ingin intropeksi diri kamu.” Katanya menimpali. Air mataku mengalir dalam suasana hening kita kami ciptakan. Padahal aku sudah sekuat tenaga terlihat kuat di hadapannya, tapi tidak bisa. Aku benci suasana ini.

“Karena kamu begitu berusaha melindungi perasaanku, kamu lupa dengan dirimu sendiri. Aku khawatir sama sikap kamu yang mulai berubah…”

“Aku berubah karena dirimu.” Aku memotong kata-katanya.

“ Aku mengerti. Aku sayang sama kamu, makanya lihatlah dirimu yang sekarang. Menyuruhku begini dan begitu, padahal kamu sendiri terlihat begitu kacau. Biarkan aku begini adanya, pandanglah aku sebagai seorang yang kamu sayang. Tolong terima aku apa adanya.” Penjelasannya membuat air mataku semakin deras. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, aku juga mencintai lelaki ini apa adanya, aku hanya mau dia menjadi lebih baik.

“Aku memang begini! Aku mungkin bukan wanita yang kau harapkan, bukan seperti mantanmu yang lain, yang selalu mengerti dirimu lebih baik di banding diriku! Kalau begitu mengapa kamu mempertahanku? Tidak mengerjar mereka yang lebih baik daripada diriku?” ucapku dengan nada yang tinggi, air mataku terus mengalir, semakin deras.  Wajahnya semakin khawatir menatapku.

Aku frustasi dengan kata-katanya. Wanita memang tidak bisa di kendalikan dengan baik emosinya. Aku sudah berusaha berbicara dengan baik. Sebelum putus asa aku merentangkan lenganku dan menggapai tubuhnya melindungi tubuhnya dengan lenganku.

“Aku memilih kamu, bukan wanita lain. Aku menyayangi kamu, bukan wanita lain. Aku mencintai kamu, bukan wanita lain. Buat apa aku mau menjalin hubungan dengan kamu jika aku tidak mencintaimu? Aku hanya khawatir denganmu. Karena aku sayang padamu.” Aku mendapatkan kehangatan dari kata-katanya. Aku dapat merasakan jantungnya berdesir.

Dia melepaskan pelukanku dengan pelan. Aku membiarkannya. Dia menatapku dengan matanya yang indah. Ya, mata itu salah satu mengapa aku jatuh cinta dengannya. Tatapan yang lembut selalu menyambutku saat aku memandang matanya. Lalu dia menggenggam tanganku dengan kuat. Aku membalasnya.

“Wanita yang menatap lelaki dengan lembut dan menggenggam tangan lelaki dengan hangat di hari natal adalah cinta.” Aku tersenyum.

“Lelaki yang memandang wanita dengan lembut dan membalas genggaman wanita di hari natal adalah cinta.” Balasnya juga sambil tersenyum.

Kini aku mengerti, aku mencintai lelaki ini dengan gila. Sampai-sampai aku melupakan diriku sendiri. Aku bersyukur mempunyai kekasih sepertinya. Aku di ingatkannya, aku di khawatirkannya. Inilah yang namanya cinta. Saat pasanganmu mencoba mempertahankan sebuah hubungan dengan intropeksi diri, agar hubungan tersebut menjadi teguh.

-Ntsy J

Sabtu, 24 Desember 2011

Mencintaimu Diam-diam

Ah, itu dia kau. Berjalan dengan santai menuju lapangan dan bergabung dengan temanmu. Tiba-tiba senyummu merekah karena kau diterima untuk bergabung dalam permainan. Padahal hanya melihat saja. Betapa kuat rasa yang sesak akan kamu di hatiku. Adakah harapan? Ya, harapan bahwa garis hidup kita akan bertabrakan. Aku tidak berani berharap. Biarkan ini tetap begini saja.

Aku bukan wanita cantik yang menjadi idaman semua pria. Tapi, bolehkah aku mengidamkan kamu? Kamu yang sangat sulit untuk di gapai. Kamu yang di kerumuni orang-orang yang mengagumimu juga. Sedangkan aku? Aku akan duduk di tempat paling terpencil memperhatikanmu dari sini. Menikmati lengkungan senyummu yang menawan, suara tawamu yang renyah mengelus gendang telingaku.

Sekali lagi, bolehkah aku berharap? Walaupun aku sangat ingin. Tapi, adakah secercah harapan itu? Walaupun sangat kecil. Darimana datangnya perasaan ini? Entah, dia tiba-tiba menyergapku, menyeringai bagaikan itu bukanlah suatu hal yang perlu di khawatirkan. Menyusup bagai maling yang handal, tanpa tahu dia sudah mengisi relung-relung yang hampa ini. Sanggupkah perasaan ini terbendung terus-menerus, makin membesar, makin sesak. Sampai semua penuh akan dirimu.

Jalanan yang ramai di penghujung tahun ini membuatku tersenyum. Di akhir tahun ini, genap sudah aku mencintai dirimu selama dua tahun. Tahukah kamu? Selama dua tahun aku mencintaimu tanpa dapat memilikimu, walaupun kamu nyata. Kadang orang menyimpan sendiri perasaannya menjadikannya rahasia kecil yang menyenangkan. Kamu rahasia kecilku yang sangat special. Aku menjalani hariku selama dua tahun ini dengan kamu, dalam arti yang berbeda tentu saja. Aku menjalani hidup dengan senyummu, dari permainanmu di lapangan, dari caramu berlari, dari caramu berjalan, semua hanya bisa aku lihat dari jauh.
Aku menemukan sebuah Gereja yang kecil di penghujung jalan. Interiornya yang apik mengundangku untuk masuk. Malam natal, Gereja mengadakan ibadah. Aku berdoa, berdoa untuk kamu, ya tiap hari kamu selalu muncul dalam doaku. Aku hanya ingin Tuhan memberikanmu kehidupan yang damai, tetap penuh dengan senyummu yang menawan. Doaku selalu besertamu, percayalah. Kamu juga, berdoalah terus untuk hidupmu. Perjuangkanlah apa yang kamu inginkan. Haruskah aku terus memperjuangkan kamu, kamu yang tak tahu kapan akan datang. Akankah aku akan terus menunggumu di sini? Menunggu yang tidak pasti.

Aku melangkah keluar Gereja dan menikmati malam natal yang indah ini. Kapan aku bisa menghabisakan malam natal bersamamu? Ada tangan yang bisa kugapai untuk mendapatkan sebuah kehangatan. Mungkin ini saatnya? Melupakanmu? Aku tak yakin aku bisa. Tak apa mencintaimu tanpa memilikimu. Tapi, sanggupkah aku? Aku melihat bintang yang menghiasi malam natal yang indah ini. Menangis sebentar dan aku melanjutkan hidupku. Ya, hanya sebentar. Biarkan air mata ini jatuh untukmu, selanjutnya mungkin tidak aka nada porsi air mata lagi untukmu. Ya Tuhan, aku mencintai dia, tapi aku tak bisa tanpa memilikinya, berikan dia apa yang terbaik. Doaku selalu besertamu, percayalah.

-Ntsy

Jumat, 23 Desember 2011

Demi Sahabat

Pernahkah kau merasakan hal ini? Terjebak dalam situasi yang paling menyebalkan. Saat dia bilang bahwa dia akan menyayangimu dan mencintaimu. Bualan cinta yang klise. Aku hanya bisa menatapnya dengan nanar. Aku sadar bahwa aku juga begitu mencintai pria ini. Tapi aku tak bisa. Pentingkah dia daripada sahabatku sendiri? Otakku hilir mudik memirkan hal ini. Begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi, jika aku salah memilih langkah. Aku tahu perasaannya lama sebelum ini. Bagaimana ia menyapaku, mengajakku ke salah satu tempat, dan menghiburku di kala sedih. Aku tahu.

Tidakkah dia tahu? Bahwa sahabatku lebih mencintai pria ini? Makanya aku tak bisa. Sahabat segala-galanya. Aku masih ingat saat sesi cuhat dia mengatakan bahwa ia mengatakan dia naksir padamu. Berawal dari itu sesi curhat kami selalu di warnai oleh namamu, sikapmu, keluargamu, segala macam berbau kamu. Tidakkah kamu tahu? Diam-diam kami seorang stalker yang hebat. Aku senang melihat wajah sahabatku yang malu-malu ketika tahu ada kau di sekitar kami, aku ikut tersenyum.

Aku berusaha keras tidak mengindahkan gerak-gerikmu. Saat kau diam-diam melirik kami. Aku memberitahu ke sahabatku bahwa kau melirik dia tadi, dan aku senang sahabatku senang. Walaupun aku tahu kamu melirik ke arahku, bukan ke sahabatku. Kadang sahabatku seorang stalker yang luar biasa. Saat dia mendapat info apapun tentang kau dia selalu kegirangan dan menceritakan semuanya padaku dan aku tersenyum. Dia mengetahui bagaimana hubunganmu dengan keluargamu, bagaimana sikapmu dengan wanita lain yang mengerjarmu dengan gila-gilaan, tapi kau hanya diamkan saja, membuat semua wanita itu mundur secara teratur.

Saat prom sekolah tiba, aku tahu kau mencuri pandang ke kami, dan tepatnya aku. Aku sadar saat aku dan sahabatku melewati kamu, kau hanya mendongkak saat aku melewatimu, padahal aku ingin membuatmu melihat sahabatku, bukan aku. Saat acara dansa aku tahu kau menghampiri kami dan sahabatku begitu antusias dengan kehadiranmu. Aku tahu maksudmu. Lalu aku meninggalkan sahabatku saat kau sudah tiba diantara kami, sehingga kau hanya bisa berdansa dengan sahabatku. Dan aku hanya bisa tersenyum miris melihatnya.

Aku selalu bersama-sama dengan sahabatku. Dia segalanya. Dan aku tidak mau kami berdua hancur karena seorang pria. Aku hanya ingin kamu mencintai dia bukan aku. Biarkan sahabatku yang bahagia, dan aku akan ikut bahagia melihatnya. Walau dia bahagia karenamu.  Aku selalu mendukung hubungan sahabatku itu denganmu, memberi semangat bahwa kau juga menyukai sahabatku. Bukan aku.

Dan kini kau berdiri di hadapanku menunggu jawabanku. Dan aku tak akan pernah bisa. Aku begitu mencintaimu dan sahabatku. Pergilah dan tinggalkan aku. Datanglah padanya, dan bilang bahwa kau begitu mencintainya, jika kau mencintaiku. Aku tahu cinta takkan bisa di paksakan. Maka dari itu jalinlah hubungan yang baik dengannya. Bangunlah cerita cinta yang indah, dan aku aku bahagia melihat kamu yang aku cinta dengan sahabatku. Dan suatu hari nanti aku juga akan berjanji, aku akan menemukan sosok yang akan kucintai setelah kamu. Tapi aku tidak janji aku bisa.

Aku hanya bisa terus memandang langit yang mengabu. Dan saat rintik hujan menyambut kesedihanku, menyambut lukisan luka yang kau berikan, menyambut penyesalanku. Aku hanya bisa memandang langit. Agar air mataku tidak bisa jatuh. Karena ini kulakukan demi sahabat.

-Ntsy-

Selasa, 29 November 2011

"Pengurus MOS Harus Mati" a novel by Lexie Xu


Awalnya, Hanny Pelangi merasa gembira karena diminta oleh pacarnya, Benji, untuk menjadi salah satu pengurus MOS. Ia bahkan rela meninggalkan Jenny sahabatnya di Singapura dan kembali ke Indonesia hanya untuk memenuhi permintaan itu. Bersama dengan anggota Pengurus MOS lain—Ronny sang kapten tim basket yang plontos; Peter sang ketua Kelompok Pers Remaja yang congkak; Ivan sang wakil ketua OSIS yang cengeng; Violina yang kecentilan dan Mila yang lembut dan feminin (keduanya sekretaris OSIS); dan Frankie, sang biang onar yang membuat Hanny keki pada pertemuan pertama mereka—Hanny lantas mengarang enam kisah horor untuk diceritakan kepada murid baru. Mereka pikir itu akan seru, dan apa yang akan mereka lakukan itu akan membuat para murid baru itu tersiksa....
...Sampai cerita horor karangan mereka mulai menjadi kenyataan.
Benar, satu demi satu pengurus MOS yang mengarang cerita itu mengalami kejadian yang sama persis dengan cerita karangan mereka. Berbagai spekulasi pun bermunculan mengenai penyebab mengapa berbagai peristiwa naas yang mengerikan itu terjadi. Kutukan kisah horor, para murid baru yang dendam pada pengurus MOS, ada pihak yang tidak senang dengan mereka... Bersama dengan Frankie yang senantiasa membuatnya deg-degan, Hanny mencoba menyibak misteri di balik kejadian-kejadian ganjil ini.
Namun, semuanya mulai terasa membingungkan saat ia menyadari satu hal. Semua petunjuk tentang pelaku kejadian ini mengarah pada Jenny, sahabatnya.
***

TADAAAA! Inilah buku kedua dari novel OBSESI. Dan aku harus memberikan alasan pada mba Lexie dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku datang ke tempat peminjaman buku bersama 2 temanku dan langsung menyerbu bagian novel, siapa tahu ada novel baru yang menarik, dan ternyata temanku mendapatkan novel yang langsung dia tarik dari rak buku, tiba-tiba temanku yang satu ini berteriak histeris dan aku yakin mampu menarik perhatian semua pengunjung saat itu. Karena penasaran aku mendekat ke temanku yang kukira sudah gila—dan ternyata aku langsung berbinar-binar saat melihat apa yang membuat temanku histeris tadi. Aku melihat novel dengan judul “Pengurus MOS Haru Mati”. Lalu, temanku yang satu nimbrung “AKU MAU PINJEM!” Sial. Pikirku pasti aku yang menjadi terakhir meminjam buku ini diantara mereka. Temanku yang menemukan duluan pasti peminjam pertama dan temanku yang nimbrung menjadi peminjam kedua jadi udah pasti aku jadi peminjam terakhir karena aku kalah cepat. Dan maaf untuk kedua kalinya juga kepada mba Lexie kalo aku tidak membeli buku mba yang kedua ini, karena aku tidak tahu kalau novel mba keluar saat aku hunting di tempat peminjaman buku. Berbeda jalan cerita jika aku sedang hunting ke Gramedia, pasti sudah kubeli.

Nah, dibuku ini lebih menceritakan bagaimana petualangan Hanny sebagai pengurus MOS dengan di dampingi seorang lelaki bernama Frankie. Cerita sangat menarik di mana pengurus MOS mempunyai ide untuk membuat cerita seram tetang sekolah mereka untuk di ceritakan pada murid peserta MOS, yang dengan maksud hanya ingin menakuti mereka. Ada 6 cerita seram yang sudah dibuat-buat oleh pengurus MOS dari 6 orang yang membuatnya.

Cerita yang menarik sekaligus menyeramkan dan sangat horor. Bagaimana tidak? Cerita yang tadinya hanya menjadi bahan untuk menyiksa murid baru itu satu-satu menjadi kenyataan dengan korban yang notabene adalah pengurus MOS yang mengarang cerita tersebut. Semua berpikir bahwa itu semua adalah ulah salah satu muris baru yang tidak suka pada pengurus MOS.

Lalu, Hanny mencari tahu apa yang terjadi di balik semua kejadian yang sudah menimpa satu demi satu temannya—yang pasti selalu di temani Frankie. Mba Lexie sangat pintar dalam menyusun jalan cerita. Di tambah dengan gaya bahasa yang bagus. Tidak jauh beda dengan buku pertama, dibuku kedua ini juga pasti ada rasa was-was ketika membacanya, deg-degan, dan tangan berkeringat.

Tapi dibuku kedua ini mungkin sempat ada rasa lega, karena tokoh Johan tidak muncul—salah besar. Lagi-lagi aku harus mengakui bahwa mba Lexie memang keren. Dan mulai nanti tidak akan meremehkan novel mba Lexie dengan percaya diri aku menebak siapa pelaku dari kejadian tersebut. Karena di akhirnya cerita nama Johan keluar sebagai dalang lagi. Dan bulu kudukku langsung merinding membaca nama Johan sebagai dalangnya.

Ending yang sangat ‘WOW’ karena akhirnya Hanny bersama Hanny dan mau tidak mau aku harus memberi selamat pada Johan karena dia kembali.

-Ntsy-

KAU a novel by Sylvia L'Namira

Aku sendiri tak percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi kau adalah pengecualian. Kau muncul di sudut mata seperti sesuatu yang wajar adanya, menghangatkan wajahku seperti cahaya matahari pagi. Suaramu bergelenyar lembut seperti belaian angin sore. Seluruh indraku bereaksi waspada, kau adalah godaan yang tak bisa disangkal begitu saja.

“Siapa namamu?” batinku bertanya-tanya. Kau benar-benar membuat pikiranku tak keruan. Aku semakin sering melihatmu dalam hidupku, tetapi aku tak punya petunjuk barang secuil pun tentang dirimu. Kau misterius seperti malam tak berbulan. Hadirmu memabukkan seperti aroma rempah-rempah.

Namun, sebelum aku berhasil membongkar misteri tentangmu, sosokmu menguap begitu saja seperti embun menjelang siang. Kukira nyeri di hatiku juga bisa cepat pergi, dibantu oleh waktu—aku salah.

Perasaanku tak sama lagi setelah kepergianmu. Kau membuatku mencandu. Kau membuatku merindu.

***
Cerita indah dari mba Sylvia ini baru selesai aku baca siang hari tadi. Sungguh-sungguh cerita yang mengharukan. Disajikan dengan gaya penulisan yang bagus. Cover juga sangat manis—awan berbentuk hati, yang berhubungan dengan tokoh utama yang sangat suka dengan bentuk-bentuk awan dan mempercayai arti-arti tiap bentuknya.

Jalan cerita di awal sangat aman—dalam arti tidak ada suatu konflik yang tidak biasa. Lalu, saat munculnya nama Igo, aku senyum-senyum; akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga! Bisa diartikan seperti itulah arti senyumanku.  Dan benar saja, si tokoh utama mulai memikirkannya, merindukannya, dsb. Hubungan yang mereka jalin semakin erat dan menumbuhkan rasa yang asing—jatuh cinta.

Tapi akhirnya puncak cerita muncul saat Igo dinyatakan tewas karena kecelakaan; pesawatnya jatuh dan hilang di perairan Riau. Batu hantaman yang sangat besar untuk Viola. Dan aku sangat suka nama lengkap Igo yang baru di beri tahu di tengah-tengah cerita—Giorgio Virganero. Sangat indah. Dan yang tak diduga bahwa Igo adalah teman arisan mama Viola, yang notabene suka pada Viola. Tragis dan menyesal.

Tapi aku takjub pada sosok Viola, percaya. Percaya bahwa Igo masih tetap hidup dan tetap memperjuangkan cintanya untuk Igo. Walaupun mamahnya keukeuh menyuruhnya untuk move on dan mencari pacar untuk Viola lewat anak-anak dari teman arisannya. Aku sempat geregetan dengan sifat mamah Viola yang suka memaksa dan repot-repot mencarikan jodoh untuk anaknya.

Tapi dengan segala cara Viola mencari sosok yang hilang tersebut, pertama tidak ada kabar yang membuatnya tenang, dan Viola terus mencari. Sampai akhirnya dia menmukan Igo-nya saat mengalami kecelakaan di jalur arum jeram, dan di tutup dengan ending yang manis dan bahagia .

-Ntsy- 

Minggu, 27 November 2011

Kenangan.

Seyummu yang merekah bersamaan bunyi bidikkan lensa kameraku yang mengarah ke lengkungan manis yang terpatri di wajahmu. Seyum itu juga akan terpatri di ingatanku yang mampu membuatku belajar untuk membuat lengkungan manis itu di wajahku sendiri. Seperti dia membagikan sepotong kebahagiaan. Senja yang mampu mengembangkan senyummu lebih lebar lagi dengan warna langit yang teduh dan membuatku mampu merekahkan senyumku sendiri, tipis.

Setelah itu, kamu akan berlari kegirangan bagai anak kecil melewati tanaman ilalang dan mengajakku untuk menggapaimu menderapkan kaki bersama-sama di iringi tawa renyah yang keluar dari mulutmu. Saat kita mengeluarkan napas yang memburu karena lelah kebahagiaan aku akan membawamu ke bawah pohon beringin di ujung sana menikmati detik-detik saat matahari kembali ke peraduannya. Lalu kita mulai membicarakan apa saja yang kita mau, ngalor-ngidul sampai tak jelas arah pembicaraan kita, yang di selingi canda tawamu.

Wajahmu yang menikmati warna senja keemasan dan membuat wajahmu berkilau, mampu membuat hati kecilku merasa tenang. Dan saat warna langit meredup, kita akan meninggalkan tampat yang manis itu dan berjanji pada diri kita masing-masing , bahwa kita akan kembali ke tempat ini. Bersama-sama.

-Ntsy :)

"OBSESI" a novel by Lexie Xu


Halo, namaku Jenny Angkasa dan hidupku saat ini bagaikan deretan mimpi buruk.

Pertama-tama, aku dimusuhi Hanny, cewek paling populer di sekolah yang tadinya adalah sahabatku satu-satunya. Mantan sohibku itu kini menganggapku lebih rendah daripada amuba, bahkan aku dikutuk untuk menjalani hidup sial selamanya.

Kedua, dua teman sekelasku yang memiliki nama yang sama denganku mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan. Berdasarkan observasi umum, aku akan menjadi korban berikutnya. Bagaimana aku tidak deg-degan?

Ketiga, aku mulai uring-uringan tinggal di rumah yang sudah kudiami selama enam tahun terakhir ini. Memang sih, kabarnya rumahku dihantui oleh wanita bergaun putih dan berambut panjang serta seorang anak perempuan kecil. Tapi selama ini kami hidup berdampingan tanpa saling mengganggu kok. Kini, mendadak saja di rumahku muncul kejadian misterius.

Apa yang terjadi sebenarnya? Benarkah penyebab semua masalah ini adalah hantu-hantu masa lalu? Atau gara-gara kutukan Hanny yang ternyata manjur banget?

Atau ada misteri lain di balik semua ini?


***

Novel yang pintar mempercepat detak jantung para pembaca dengan bau misterius yang sangat kental di sajikan dalam novel ini. Mungkin bisa diliat dari sisi cover buku, kalo novel ini pasti tentang hantu yang membunuh seorang gadis SMA. Dulu aku sempat berpikir seperti itu saat pertama kali liat covernya, tapi setelah baca sinopsis yang ada di belakang, baru aku mulai tertarik dengan novel ini. Akhirnya dengan rasa penasaran yang makin besar aku akhirnya pinjam novel ini (maaf loh mba Lexie, aku ga beli novelnya yang ini, bukan soal ga modal-_-v) ke tempat peminjaman novel dekat sekolah.

Lembar demi lembar aku baca, pertama-tama di ceritakan tentang pengenalan tokoh utama dan yang lainnya, lalu persamaan nama ‘Jenny’, dilanjutkan dengan hubungan persahabatan yang harmonis antara Jenny dan Hanny. Lalu setelah itu konflik demi konflik di sajikan dengan permainan kata yang bagus dari mba Lexie membuat pembaca antusias membacanya. Lalu datangnya tokoh Tony dan Markus, yang menuntun Jenny ke rusaknya persahabatan antara Jenny dan Hanny gara-gara Tony yang menerima taruhan teman-temannya. Aku prihatin banget sama Jenny pas adegan dia di caci-maki sama Hanny gara-gara di tuduh dirinya merebut Tony. Nah, baru setelah itu keluar kata-kata kutukan Hanny yang membuat Jenny galau.

Sumpah, jantung aku deg-degan banget waktu satu demi satu nama ‘Jenny’ kena musibah, soalnya kena musibahnya bener-bener serem. Tapi datanglah bala bantuan dari Tony dan Markus-yang-ikut-ikutan bak superhero nyelametin cewe yang diikat di atas rel. Nah, aku paling suka bagian Tony sama Markus yang nyelidikin rumah Jenny dengan gaya detekif mereka, satu demi satu misterius terungkap bahwa rumah yang jadi rumah Jenny itu dulu tempat tinggal Johan. Pas bagian ini aku sempet merinding juga, mikirin gimana orang psikopat kayak Johan bisa berkeliaran di rumah Jenny dengan lebih tau seluk-beluk rumah itu. Dan yang paling bikin merinding adalah saat Jenny,Tony,dan Markus udah tau bahwa Johan yang menjadi dalangnya, Hanny lagi berdua di rumah sang psikopat. Jantung mulai deg-degan saat mereka bertiga sampai di rumah Johan. Pas udah sampai di adegan di mobil yang aku kira akan menemukan ending seperti ‘mereka semua hidup bahagia selamanya’ dan ternyata jauh dari kata-kata ‘bahagia’ dan malah ‘sangat menyeramkan’. Ending yang misterius, seram, merinding, deg-degan, di campur tangan yang basah. Sumpah, ngeri bener kalo orang bisa 2 suara kayak Johan, sakit jiwa bener. Boleh sih say goodbye, tapi itu say goodbye paling bikin bulu kuduk meremang. Top markotop deh buat mba Lexie.

Nah, begitu aku selesai baca tuh novel, akhirnya aku bisa menghela napas dan dapat menerima ending yang happy karena Johan masuk RSJ. Tapi, aku salut banget sama mba Lexie, pinter bikin surprise. Pas baca halaman belakang ada surprise nih novel bakal berlanjut. Merinding soal Johan, penasaran sama lanjutannya.

-Ntsy-

Sabtu, 26 November 2011

"GREY SUNFLOWER" a novel by Ruth Priscilia Angelina

Sinopsis:
Louise, si gadis pecinta bunga matahari, memutuskan melarikan diri ke Belanda untuk membuka lembaran baru setelah kematian cinta pertamanya, Davin. Di sana ia berniat melanjutkan kuliah dan melupakan segala hal yang berhubungan dengan cinta. Tetapi, takdir malah mempertemukannya dengan Ben, saudara kembar Davin. Perasaan Louise campur aduk, kenangan akan Davin menariknya kepada Ben.
Namun, seakan hidup Louise belum cukup membingungkan, takdir malah memperumitnya dengan menghadirkan kembali Gerard, pria ang juga pernah mengisi hidupnya dan telah beberapa tahun telah menghilang.
Dibayangi kenangan dan balutan kebimbangan, bisakah Louise menemukan Bunga Matahari-nya yang sejati?


***

Novel yang menarik untuk dibaca, saya sudah baca untuk yang kedua kalinya . Di balut dengan cover yang simple tapi sangat indah. Cerita yang dimulai dengan seorang gadis bernama Louise menyukai diam-diam pria bernama Davin sejak kelas empat SD, dan perasaan Louise yang tidak berubah sampai dia harus bebas dari seragam putih-abu-abu-nya.

Novel ini menampilkan banyak konflik yang membuat para pembaca larut dalam cerita dengan permainan kata yang indah dari ka Ruth. Tapi, kebanyakan jalan cerita yang ada terkesan mellow. Terutama kesedihan, kegundahan, kebimbangan, kegalauan seorang Louise. Saya sampai ikut-ikutan sedih saat Louise harus kehilangan cinta pertamanya, lalu harus kehilangan lagi cintanya yang ada di Amsterdam.

Novel ini special. Ada jalan cerita yang berlatar belakang kota kincir angin, pembaca bisa berimajinasi betapa indah kota tersebut dengan di payungin awan abu-abu yang lembut. Jalan cerita semakin seru saat Louise bertemu dengan saudara kembar Davin, yaitu Ben. Menjungkir balikkan dunia Louise dengan kehadirannya, cintanya, sayangnya seorang Ben yang menggantikan seorang Davin. Jalan ceritanya yang manis menurut saya saat Louise bersama Ben.

Banyak adegan romantic yang disajikan dalam novel ini, yang membuat para pembaca khususnyna perempuan pasti merasa iri pada seorang Louise. Adegan romantis saat Gerard menyatakan cintanya pada Louise di atap apartement-nya, adegan romantis saat Ben berlibur bersama Louise dan Ben menyatakan perasaannya, adegan romantis Ben saat dia melamar Louise. Dan adegan yang paling saya suka adalah saat Gerard melamar Louise dan adegan pernikahan mereka. Ikrar sepasang suami-istri di sebuah gereja kecil yang di bangun oleh Louise, sangat manis ditambah iringan paduan suara anak kecil. Sepasang suami-istri yang mengikrarkan janji mereka untuk hidup bersama sampai maut memisahkan mereka.

Akhirnya setelah begitu banyak konflik ini-itu, cerita dalam novel ini di tutup dengan ending yang sangat indah, romantis, manis, rapi, mengharukan.

Mereka mencintai aku seperti bunga matahari. Dan aku mencintai mereka seperti warna abu-abu. Tidak memihak kepada siapa-siapa. Aku memberikan cinta yang sama seperti warna abu-abu. Abu-abu yang tidak hitam dan tidak putih.

-Ntsy :)

Senin, 14 November 2011

Goodbye.

Perpaduan kuning, orange, jingga, berpadu menjadi perpaduan yang menghiasi mataku sekarang, sempat terucap kata syukur dalam hati pada Tuhan yang menciptakan lukisan yang sangat indah ini. Aku memandangnya dengan mata yang berbinar-binar sambil menerka-nerka apa aku bisa ikut bersama matahari yang kembali ke peraduannya, dan apa yang terjadi jika itu benar terjadi. Semilir angin yang menerpa mukaku refleks membuatku menutup mata sambil menikmati angin yang mengelus kulitku. Semakin lama bulu kudukku meremang karena suhu yang meningkat, tapi aku tak menghiraukan itu semua, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

Aku punya duniaku sendiri, dunia yang aku bangun sendiri. Begitupun dia, dia memiliki dunianya sendiri, jalannya sendiri. Sempat aku berpikir, apakah aku bisa menjadi bagian dari dunianya? Tidak bisa. Itu hak dia, dan aku hanya bisa menerka-nerka hal yang tak mungkin terjadi. Hatiku bergemuruh tanpa sebab. Tak terbendung lagi, air mataku mengalir perlahan. Entahlah ini cara yang paling ampuh untuk melampiaskan semuanya. Tapi, aku bukan tipe perempuan yang meraung-raung untuk melampiaskan semua itu. Aku rasakan aliran yang ada di pipiku tetap menutup mataku, sambil mengatur kembali detak jantungku ke normal. Lalu di tutup dengan helaan napas yang panjang. Aku membuka mataku dan tersenyum. Tidak ada gunanya tersungkur terlalu lama, aku harus bangkit, aku ingin menikmati hidupku sendiri, duniaku.

Aku tidak akan jatuh terlalu dalam gara-gara seorang laki-laki, dia masa laluku. Aku tidak akan melupakannya, aku akan menyimpan memori tentang kami berdua pada tempatnya. Aku akan membawa memoriku itu sampai kapanpun, tak ada gunanya menghapus itu semua. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, mungkin dia sudah lupa tentangku, dan aku akan menerima semua itu. Aku lega. Topeng yang selalu kupakai akhirnya bisa kulepas. Dulu, hidupku tak lengkap tanpanya. Dulu, aku berpura-pura bahagia melihatnya dengan orang lain. Dulu, aku tak pernah rela. Dan aku muak dengan semua itu. Cukup. Aku tidak akan memikirkan lagi tentang dirinya. Mungkin ini jalan yang akan kutempuh, tanpa dirinya.

Selamat tinggal kamu yang dulu tangannya bisa kugapai, kamu yang dulu mengisi relung hatiku tiap hari, kamu yang selalu berjalan di sisiku menderapkan kaki bersama-sama, kamu yang dulu selalu bisa membuat detak jantungku berderu. Memori itu sudah kumasukan ke kotak memori, dan sudah kukunci rapat-rapat.

-Ntsy-

Edit my template

Karena udah lama banget nih ga ngurus blog, jadi aku ng-edit ulang. Bukan kegiatan yang gampang juga, aku itu banyak maunya harus begini harus begitu, semuanya harus sesuai dengan apa yang aku mau. Ganti background, ganti style tulisan, ganti warna sesuai bakground yang di pilih, tambahin gadget ini-itu, dan masih banyak lagi.

Dan akhirnya setelah berkutat di depan laptop ng-edit blog (sebenarnya sambil nyari tugas, tapi ujung-ujungnya tugas terbengkalai) selama sejam, jadilah template apa yang aku mau dan sesuai dengan seleraku juga. Karena aku terobsesi banget dengan kota Paris, jadi aku pilih background dengan gambar Menara Eiffel, yang engga terlalu rame dan engga terlalu sepi juga, di ubah sedikit warna text, dan lain-lain.

Tapi aku ubah template bukan yang menurut aku bagus, tapi bisa bikin pengunjung jadi lebih nyaman berlama-lama di blog aku, pengaturan warna yang di pilih juga yang menurut aku ga terlalu suram, tapi juga ga terlalu cerah, ballance. So, enjoy my new template 'This is my story :)'

-Ntsy-

Minggu, 13 November 2011

Just deleted my posting

Kalo udah baca posting sebelum ini, pasti di sebutin kalo dulu blog ini pernah posting cerbung karyaku sendiri. Sempat membacanya sedikit; kalimat yang awut-awutan, amburadul,dll.Tiba-tiba senyum terkembang dengan sendirinya mengingat waktu itu aku sendiri yang mengetik kata-kata itu.

Hohoho. Karena itu postingan yang udah jadul banget, jadi aku hapus aja ya. Lagian cerita itu aku juga lupa ending-nya kayak gimana. Hehehe. Wait for new posting about 'This is my story :)'



-Ntsy-

Miss my blog

Sudah setahun tidak buka blog, dan rasanya pas liat blog aku, miris. Kosong melompong banget ya, soalnya ga sempat buat bloging lagi, urusan ini itu lah sana sini. Tapi, pas liat blog orang lain itu di rawat banget, rajin di post, followersnya banyak, berbagi pengalaman. Ada orang juga sukses gara-gara posting ini-itu tentang dirinya, ambil contoh Raditya Dika, novel Kambing Jantan di tanam dari blog, trus di bukuin, jadi sebuah novel yang menarik.

Pas liat apa yang sudah aku posting sebelum postingan ini, cerbung-cerbung aku yang gagal total gara-gara malas buat nglanjutin dengan berbagai macam hambatan. Tapi ada niat dalam hati buat lebih merawat blogku ini. Sebenarnya aku ga pandai merangkai kata-kata yang menarik, tapi mau apa kata orang kata-kata aku amburadul, ga jelas, dan segala macam, rasanya ada niat buat lebih niat berlatih. Aku tertarik dengan novel, membacanya seperti menonton film dengan layar yang ada di otakku sendiri membuat tokoh imajinasi mengikuti apa yang sudah di diskripsikan sang novelis, dan itu sangat menarik.

Semoga aja nih setelah ngposting postingan ini jadi sering merawat blog, rajin memposting, dan mengasah pilihan kata-kata untuk membentuk kalimat yang indah. Cita-citaku sebenarnya bukan seorang novelis, hanya tertarik saja, entah kenapa. Hohoho.

Oke, semangat untuk merawat blogku ini dan selamat datang kembali di 'This is my story :)'

-Ntsy-