Minggu, 25 Desember 2011

Aku Sadar Karena Dirimu

“Kamu egois tau?!” bentaknya.

“Maksud kamu apaan sih?” tanyaku masih tidak mengerti.

“Aku capek dengan semua kelakuan kamu!” katanya sambil membentangkan jarak antara aku dan dirinya.

“Kelakuan aku yang mana?!” kataku dengan suara naik satu oktaf karena permainan kata ini.

“Semua kelakuan kamu sama aku! Kamu mau aku begini dan begitu. Kamu selalu marah dengan hal-hal kecil yang sudah aku perbuat. Kamu selalu melakukan apa saja yang kamu perbuat tanpa pendapatku.” Akhirnya ada penjelasan yang bisa aku serap dari pembicaraan ini. Aku tatap matanya, mencari kesungguhan di sana. Aku memperhatikan pergerakan emosi di wajahnya, mencari kejujuran di sana. Hening melingkupi kami berdua. Dia laki-laki yang aku cintai dalam hidupku. Dan baru kali ini dia mengungkapkan hal seperti ini. Tidak setuju dengan sikapku.

“Apa ini berarti kamu berhenti mencintaiku?” tanyaku dengan suara getir, aku berusaha terlihat kuat.

“Aku terus-menerus mencoba melindungi perasaanmu, walaupun perasaanku tak akan lindungi, demi kamu.” Lanjutku masih dengan suara getir.

“Aku berkata seperti itu bukan karena aku tidak sayang sama kamu. Aku hanya ingin intropeksi diri kamu.” Katanya menimpali. Air mataku mengalir dalam suasana hening kita kami ciptakan. Padahal aku sudah sekuat tenaga terlihat kuat di hadapannya, tapi tidak bisa. Aku benci suasana ini.

“Karena kamu begitu berusaha melindungi perasaanku, kamu lupa dengan dirimu sendiri. Aku khawatir sama sikap kamu yang mulai berubah…”

“Aku berubah karena dirimu.” Aku memotong kata-katanya.

“ Aku mengerti. Aku sayang sama kamu, makanya lihatlah dirimu yang sekarang. Menyuruhku begini dan begitu, padahal kamu sendiri terlihat begitu kacau. Biarkan aku begini adanya, pandanglah aku sebagai seorang yang kamu sayang. Tolong terima aku apa adanya.” Penjelasannya membuat air mataku semakin deras. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, aku juga mencintai lelaki ini apa adanya, aku hanya mau dia menjadi lebih baik.

“Aku memang begini! Aku mungkin bukan wanita yang kau harapkan, bukan seperti mantanmu yang lain, yang selalu mengerti dirimu lebih baik di banding diriku! Kalau begitu mengapa kamu mempertahanku? Tidak mengerjar mereka yang lebih baik daripada diriku?” ucapku dengan nada yang tinggi, air mataku terus mengalir, semakin deras.  Wajahnya semakin khawatir menatapku.

Aku frustasi dengan kata-katanya. Wanita memang tidak bisa di kendalikan dengan baik emosinya. Aku sudah berusaha berbicara dengan baik. Sebelum putus asa aku merentangkan lenganku dan menggapai tubuhnya melindungi tubuhnya dengan lenganku.

“Aku memilih kamu, bukan wanita lain. Aku menyayangi kamu, bukan wanita lain. Aku mencintai kamu, bukan wanita lain. Buat apa aku mau menjalin hubungan dengan kamu jika aku tidak mencintaimu? Aku hanya khawatir denganmu. Karena aku sayang padamu.” Aku mendapatkan kehangatan dari kata-katanya. Aku dapat merasakan jantungnya berdesir.

Dia melepaskan pelukanku dengan pelan. Aku membiarkannya. Dia menatapku dengan matanya yang indah. Ya, mata itu salah satu mengapa aku jatuh cinta dengannya. Tatapan yang lembut selalu menyambutku saat aku memandang matanya. Lalu dia menggenggam tanganku dengan kuat. Aku membalasnya.

“Wanita yang menatap lelaki dengan lembut dan menggenggam tangan lelaki dengan hangat di hari natal adalah cinta.” Aku tersenyum.

“Lelaki yang memandang wanita dengan lembut dan membalas genggaman wanita di hari natal adalah cinta.” Balasnya juga sambil tersenyum.

Kini aku mengerti, aku mencintai lelaki ini dengan gila. Sampai-sampai aku melupakan diriku sendiri. Aku bersyukur mempunyai kekasih sepertinya. Aku di ingatkannya, aku di khawatirkannya. Inilah yang namanya cinta. Saat pasanganmu mencoba mempertahankan sebuah hubungan dengan intropeksi diri, agar hubungan tersebut menjadi teguh.

-Ntsy J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar