Lihatlah ini, bulir-bulir hujan yang menemaniku sekarang. Bulir-bulir yang membuka luka di hati ini. Luka yang kamu lukiskan padaku. Kehilangan kamu seperti kebahagiaanku kamu ambil semuanya. Kenapa aku tidak siap? Karena kamu begitu cepat meninggalkanku. Waktu terus berlalu tapi aku tetap mau menunggumu di sini. Entah kekuatan magis apa yang memelukku begitu erat. Tapi aku masih ingat pesanmu waktu itu. ‘Jika aku pergi dari hadapanmu, tunggulah aku, aku akan kembali’
Aku bersungguh-sungguh menunggumu, untukmu. Ada yang pernah bilang bila berani mencintai sesorang kita harus berani menerima bagaimana jika cinta itu pergi. Ini kah rasanya bagaimana jika cinta itu pergi? Apa sih sebenarnya cinta itu? Semua orang bilang mereka punya cinta. Sesakit-sakitnya cinta, cinta begitu banyak di incar semua orang, semua orang membutuhkannya. Begitu juga dengan diriku, aku mencarimu, menunggumu, membutuhkanmu.
Kukira seiring berjalannya waktu perasaanku akan meluntur. Kenyataannya tidak, seiring berjalannya waktu kerinduan menggerogoti labirin di hatiku, labirin yang penuh dengan kehampaan. Kamu yang mengajarkanku bagaimana berimimpi, kamu yang mengajarkanku bagaimana manisnya cinta itu, kamu yang mengajarkanku bagaimana kerinduan seseorang yang menyesakkan. Aku bisa merasakannya sekaligus.
Hatiku masih membara tentang dirimu. Hatiku masih di warnai tentang dirimu. Hatiku masih menunggumu di sini. Jangan biarkan aku yang sudah menunggumu di sini dengan harapan dan janjimu itu di bayar dengan kepergianmu tanpa pamit, tanpa sebuah pengakuan.
Begitu aku merindukan tatapan lembut ketika mataku bertabrakan dengan tatapanmu. Begitu aku merindukan suara tawamu ketika kesedihan menerpaku, kau mencoba menghiburku. Begitu aku merindukan mimpi-mimpi yang kita rancang sendiri. Begitu aku merindukan tangan yang kokoh menyelimuti tanganku.
Bulir-bulir air ini menambah kerinduanku akan dirimu. Entah kamu ada di mana sekarang. Gunung-gunung, pulau-pulau, samudra sekalipun yang bisa memisahkan kita, tapi hati ini begitu terpaut akan dirimu di sana. Tahu-tahu kamu selalu hadir dalam baris doaku. Tahu-tahu kamu begitu penting saat mata ini terbuka di pagi hari. Tahu-tahu kamu yang menjadi penyemangat hari-hariku.
Ingatkah kamu saat kita sama-sama menari di bawah rinai hujan? Ingatkah kamu saat kesedihan yang pekat kita masih bisa tertawa bersama? Ingatkah kamu saat kita sama-sama membicarakan kehidupan masing-masing ada antusiasme di mata kita masing-masing?
Hujan yang mengundang menetesnya air mata, yang membuka lubang akan dirimu, yang mengingatkan kembali bahwa kamu tak kunjung datang. Sebuah pertemuan akan selalu ada sebuah perpisahan. Apakah cinta juga begitu? Saat menemukan cinta tersebut cinta itu berpisah, pergi tanpa pamit.
Aku hanya punya sebuah harapan dan berpegang dengan janjimu. Aku menunggumu di sini. Hatiku masih membara akan dirimu. Aku menunggu sebuah pengakuan yang akan keluar dari bibirmu. Dan bulir-bulir hujan ini akan tetap setia menemaniku sampa kamu menemukanku kembali.
-Ntsy
: " tiadakah secuil rindu itu di dalam benaknya ?? "
BalasHapus:')
BalasHapus