Sabtu, 24 Desember 2011

Mencintaimu Diam-diam

Ah, itu dia kau. Berjalan dengan santai menuju lapangan dan bergabung dengan temanmu. Tiba-tiba senyummu merekah karena kau diterima untuk bergabung dalam permainan. Padahal hanya melihat saja. Betapa kuat rasa yang sesak akan kamu di hatiku. Adakah harapan? Ya, harapan bahwa garis hidup kita akan bertabrakan. Aku tidak berani berharap. Biarkan ini tetap begini saja.

Aku bukan wanita cantik yang menjadi idaman semua pria. Tapi, bolehkah aku mengidamkan kamu? Kamu yang sangat sulit untuk di gapai. Kamu yang di kerumuni orang-orang yang mengagumimu juga. Sedangkan aku? Aku akan duduk di tempat paling terpencil memperhatikanmu dari sini. Menikmati lengkungan senyummu yang menawan, suara tawamu yang renyah mengelus gendang telingaku.

Sekali lagi, bolehkah aku berharap? Walaupun aku sangat ingin. Tapi, adakah secercah harapan itu? Walaupun sangat kecil. Darimana datangnya perasaan ini? Entah, dia tiba-tiba menyergapku, menyeringai bagaikan itu bukanlah suatu hal yang perlu di khawatirkan. Menyusup bagai maling yang handal, tanpa tahu dia sudah mengisi relung-relung yang hampa ini. Sanggupkah perasaan ini terbendung terus-menerus, makin membesar, makin sesak. Sampai semua penuh akan dirimu.

Jalanan yang ramai di penghujung tahun ini membuatku tersenyum. Di akhir tahun ini, genap sudah aku mencintai dirimu selama dua tahun. Tahukah kamu? Selama dua tahun aku mencintaimu tanpa dapat memilikimu, walaupun kamu nyata. Kadang orang menyimpan sendiri perasaannya menjadikannya rahasia kecil yang menyenangkan. Kamu rahasia kecilku yang sangat special. Aku menjalani hariku selama dua tahun ini dengan kamu, dalam arti yang berbeda tentu saja. Aku menjalani hidup dengan senyummu, dari permainanmu di lapangan, dari caramu berlari, dari caramu berjalan, semua hanya bisa aku lihat dari jauh.
Aku menemukan sebuah Gereja yang kecil di penghujung jalan. Interiornya yang apik mengundangku untuk masuk. Malam natal, Gereja mengadakan ibadah. Aku berdoa, berdoa untuk kamu, ya tiap hari kamu selalu muncul dalam doaku. Aku hanya ingin Tuhan memberikanmu kehidupan yang damai, tetap penuh dengan senyummu yang menawan. Doaku selalu besertamu, percayalah. Kamu juga, berdoalah terus untuk hidupmu. Perjuangkanlah apa yang kamu inginkan. Haruskah aku terus memperjuangkan kamu, kamu yang tak tahu kapan akan datang. Akankah aku akan terus menunggumu di sini? Menunggu yang tidak pasti.

Aku melangkah keluar Gereja dan menikmati malam natal yang indah ini. Kapan aku bisa menghabisakan malam natal bersamamu? Ada tangan yang bisa kugapai untuk mendapatkan sebuah kehangatan. Mungkin ini saatnya? Melupakanmu? Aku tak yakin aku bisa. Tak apa mencintaimu tanpa memilikimu. Tapi, sanggupkah aku? Aku melihat bintang yang menghiasi malam natal yang indah ini. Menangis sebentar dan aku melanjutkan hidupku. Ya, hanya sebentar. Biarkan air mata ini jatuh untukmu, selanjutnya mungkin tidak aka nada porsi air mata lagi untukmu. Ya Tuhan, aku mencintai dia, tapi aku tak bisa tanpa memilikinya, berikan dia apa yang terbaik. Doaku selalu besertamu, percayalah.

-Ntsy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar