Minggu, 05 Februari 2012

Aku, Kamu dan Cerita Kita

Kala itu hanya tatapan kita yang beradu, tanpa kata yang keluar. Pertemuan pertama kita, masih ingat? Ya, aku begitu menyelami hitamnya bola matamu itu, teduh. Lalu setelah itu tatapanku mengikuti setiap gerak-gerikmu. Senyum ini selalu terkembang saat menyapu gerakan kecilmu; menaikkan kakimu di atas kaki yang lain, saat menulis, postur tubuhmu saat berjalan. Sungguh, tanpa kata-kata yang terucap rasa ini dapat terbit. Lama-lama memenuhi implus-implus di otakku yang kadang berhalusinasi seenaknya tentang sosokmu.  Salahkah aku jika terus-menerus menyimpan rasa ini? Sendirian. Padahal, betapa indahnya jika aku bisa membaginya bersamamu, sambil menatap langit sore yang indah. Tidak, romantis itu tidak harus sunset, kau tahu? Tangan kita saling bertaut saja itu sudah hal yang paling romantis.

Kamu yang selalu menyelami duniamu sendiri, duduk di dalam kelas sampai tak sadar bahwa bel istirahat sudah berbunyi, kamu terlalu sibuk dengan catatanmu sendiri, ingin saat itu aku duduk di sebelahmu menemanimu, tidak perlu kata yang terucap di antara kita, aku akan dengan senang hati melakukannya. Sudah ku bilang kan? Tanpa ada satu pun sesuatu yang terkuak di antara kita, aku bisa memahami presepsi tentang dirimu di hatiku ini. Tidak, aku tidak memaksamu untuk berkenalan denganku di tambah dengan senyummu itu. Aku sudah mengenal dirimu lebih jauh, walaupun kamu tidak pernah mengenalku.

Namun saat itu datang juga, kamu lulus dengan nilai yang memuaskan dan akan melanjutkan ke sekolah yang kamu inginkan selama ini dengan beasiswa yang kamu capai dengan susah payah. Kamu yang akan menikmati indahnya Big Ben saat malam, kamu yang akan melihat sungai Thames saat sore hari. Kala itu aku bisa memperhatikan senyummu saat mengetahui hasil ujian.  Saat itu kita saling menatap, kamu melempar senyum itu. Astaga, sungguh kamu begitu menawan.   Tapi saat itu aku ragu untuk berharap, adakah kesempatan rasa yang selalu tumbuh ini tersampaikan padamu?  Saat selesai pesta perpisahan, di depan gerbang sekolah, kamu tiba-tiba menggenggam tanganku dan menuntunnya ke belokkan sekolah, lalu langkahku terhenti begitu juga denganmu.

Aku akan melanjutkan sekolah di London, mungkin ini akan menjadi perjumpaan kita yang terakhir. Dan aku akan merindukan kamu. Maaf aku baru bisa mengatakannya saat ini, aku mencintaimu tapi aku tak bisa. Aku tidak akan tahan hari-hari tanpamu di sana, sungguh.

Kala itu aku hanya bisa menatapmu dengan bantuan penerangan lampu di belokkan sekolah itu, terlalu kaget dengan semua ini. Tapi aku bisa melihatnya, matamu yang teduh itu. Lalu dengan cepat air mataku luruh juga. Aku berusaha memasang senyumku di balik derai air mataku.

Aku akan selalu merindukanmu, percayalah. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya kita menatap satu sama lain. Maafkan aku juga karena aku menyimpan rasa ini sendirian, aku tahu aku seorang pengecut. Tapi, sungguh aku akan menunggumu di sini sampai kapanpun, kalau kamu yang meminta.

Aku bisa merasakan tanganmu yang mengisi tanganku, kamu menggenggamnya dengan erat. Lalu, saat beberapa menit kita hanya saling menatap dengan keheningan yang menyelubungi. Setelah itu kamu menggeleng dengan frustasi, tetap dengan jemari kita yang bertaut.

Aku sangat menyesal.

Lalu air matamu terbit di ujung matamu, kamu tidak berusaha menghapusnya.  Aku melepaskan sebelah tanganmu untuk menggapai kepalamu, dengan hati-hati aku menyapukan jemariku di matamu.

Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu, kamu hal yang paling penting. Aku akan menunggumu.

Kamu hanya bisa menatapku, lalu mengambil lagi tanganku yang tadi menghapus air matamu. Kamu mengambil beberapa tarikan napas.

Jangan menunggu aku, kamu harus menemukan seseorang selain aku. Aku tidak berani memberi janji yang belum pasti aku bisa penuhi, aku tidak ingin hatimu sakit.

Air mataku meluncur terus-menerus mendengar kata-katamu. Aku hanya bisa memejamkan mata, menenangkan emosi yang terbentuk karena situasi ini.

Baiklah. Janji padaku kamu akan bahagia di sana, belajar dengan sungguh-sungguh, dan mencapai apa yang kamu inginkan.

Kamu menganggukkan kepala dengan pelan, aku bisa tersenyum saat itu. Tapi aku tidak janji aku dapat melupakanmu begitu saja, kata hatiku.

Ingatlah ini, doaku akan selalu mengiringimu saat aku tidak ada untukmu. Percayalah.

Setelah kalimat itu, kita hanya bisa mengisi kesunyian dengan derai air mata, air mata kamu dan aku. Tangan kita yang saling menggenggam itu terus terpaut. Inilah perpisahan kita, aku dan kamu akan menemukan jalan masing-masing. Kita tidak butuh kata saat nanti kita tidak pernah berjumpa lagi, aku hanya bisa menerbangkan rinduku ke tempatmu, dan kamu akan melantunkan doa untukku setiap malam.



-Ntsy-