Jumat, 01 Juni 2012

Aku Memang Tidak Sebaik Masa Lalumu


Gadis itu berjalan dengan tangannya yang memegang erat payung sebelah tangan dan sebelah tangannya memegang kantong kresek. Senyumnya merekah walau rintik hujan mehujam tanpa ampun payungnya, walaupun sepatunya kini sudah basah karena genangan air yang ia lewati di pinggir jalan. Di persimpangan dia berbelok ke sebuah jalan yang lebih kecil. Di depannya tampak jelas rumah yang sederhana namun tampak nyaman.

Masih terlalu pagi, tapi tukang sayur tidak pernah absen untuk menjajakan dagangannya. Sekilas gadis itu memberikan senyumnya pada si tukang sayur yang membalas dengan senyumnya yang hangat. Dia bisa merasakan dinginnya gembok gerbang rumah tersebut, lalu membukanya, berusaha meminimalisir suara gesekan besi yang mulai berkarat. Dengan cepat dia masuk dan menutup gerbang. Dia mulai menikmati langkahnya saat melewati taman kecil namun terawat.

Saina menggapai kenop pintu dan perlahan memutarnya. Dia bisa melihat isi rumah yang berantakan lalu tersenyum. Dia akan senang hati membereskannya. Saat pintu di tutup, dia menuju meja makan dan menyimpan kantong kresek yang dia bawa sedari tadi, lalu mengeluarkan bubur yang masih hangat. Senyumnya makin lebar saat mengambil sebuah mangkuk dan menumpahkan bubur dalam plastik ke dalam mangkuk.

Setelah puas melihat buburnya, dia mengambil cangkir dan menyeduh teh. Teh yang tidak begitu manis dan tentunya hangat. Dengan hati-hati dia membawa nampan dengan bubur dan teh hangat yang sudah siapkan tadi. Melewati ruang tamu dengan majalah di mana-mana. Dia berhenti di sebuah kamar lalu membukanya dengan perlahan. Mengamati seseorang yang sedang tertidur pulas di balik selimutnya. Saina berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara sedikitpun lalu menyimpan nampan di sebelah tempat tidur.

Saat keluar kamar dia langsung mengambil sapu dan mulai membereskan rumah yang begitu berantakan. Bukan beban untuk Saina jika itu ada kaitannya dengan Henry. Apapun akan dia kerjakan dengan senang hati.

“Ngapain kamu di sini?”

Saina melihat Henry yang baru saja keluar dari kamarnya. Rambutnya yang acak-acakan selalu mempesona.

“Sudah makan buburnya?”

“Tidak. Aku tidak suka makanan yang dingin di pagi hari.”

“Oh, mau kupanaskan?”

“Tidak perlu! Untuk apa kamu datang ke sini?!”

“Aku hanya ingin membawakan sarapan untukmu dan kulihat di sini harus di bersihkan.”

“Keluarlah! Untuk apa kamu perhatian sama aku?”

“Aku hanya ingin melakukannya.”

“Kayak Sherla dong! Dia mau nglakuin apa yang aku suruh!”

“Oh, begitu ya. Ya sudah aku pergi dulu, kalo mau sarapan bisa panaskan buburnya sendiri kan? Aku pergi 
dulu kalau begitu. Have a nice day.

Saina mengambil tas tangannya dan bergegas keluar dari rumah tersebut. Mukanya yang muram tidak menjamin hari ini dia akan melewati hari yang menyenangkan.

*

Saina yakin dia tidak salah orang. Jelas-jelas itu Henry yang sedang duduk di café sendirian. Dengan langkah terburu-buru Saina masuk kedalam café lalu berjalan ke meja Henry dan duduk di sebelahnya. Henry hanya bisa menunjukkan wajahnya yang heran.

“Kamu kenapa sih belakangan ini?”

“Memangnya kenapa? Kamu kan cuman pacar aku bukan istriku.” Ucap Henry ketus lalu memalingkan 
wajahnya ke koran hari ini. Siana hanya menundukkan kepalanya.

“Apakah kamu pernah menganggapku bagian penting dalam dirimu?” kepalanya menengadah seketika menatap wajah Henry lekat.

“Kamu ngomong apa sih? Aku kan selalu menghargai kamu sebagai seorang pacar.” Ucapnya kini tak kalah ketus.

“Padahal aku tau semuanya tentang dirimu, bahkan hal detail apapun tentangmu tak pernah ku anggap hal yang kecil, selalu kuanggap hal yang penting.” Jelas Saina dengan berlinang air mata.

“Dasar perempuan! Selalu menangis sebagai alat pamungkasnya! Jangan menangis di depanku, Sherla tidak cengeng seperti kamu tau? Jelas dia lebih tegar daripada kamu.” Ucap Henry tanpa rasa kasihan di depan Saina.

“Memang benar… aku tidak sebaik dia. Memang benar aku tidak secantik dia. Memang benar aku tidak sekuat dia. Jelas aku tidak ada apa-apanya dibanding dengan dirinya! Tapi bukankah dia hanya masa lalumu?”

“Sherla memang masa laluku tapi memang dia lebih baik daripada dirimu!” bentak Henry.

“Lihat? Kau bahkan masih senang di masa lalumu. Kamu tidak pernah mau melihat masa depanmu. Kamu 
tidak pernah memandang aku!” Henry bisa melihat emosi yang terpancar dari muka Saina. Saina bisa merasakan hatinya sakit, seperti berdenyut-denyut.

“Apakah itu penting?!”

“Aku bahkan kecewa pada diriku sendiri, aku tidak berhasil melepaskan kamu dari masa lalumu. Kau tau apa artinya? Aku tidak berhasil membuatmu melupakan masa lalumu.” Kini terlihat jelas Saina tak bisa membendung air matanya.

“Bagiku masa lalu itu bukan untuk di lupakan!”

“Kamu masih ingin berhenti di masa lalumu? Baiklah, lebih baik kita sudahi saja semua ini, kalau kau benar-
benar mencintai masa lalumu dan terus merindukannya. Kurasa tak ada gunanya juga kita teruskan semua ini.” Karena tidak tega melihat Saina menangis, Henry menjadi tidak tega.

“Sayang… bukan begitu maksudku. Maafkan aku…” ucap Henry selembut mungkin.

“Percuma ada kata maaf kalau kamu tetap seperti ini, terus-menerus mengulanginya. Pergilah, lagipula aku juga tidak membutuhkanmu di masa depanku nanti.” Ucap Saina dengan ketusnya lalu berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Henry.

Henry bahkan tidak menyangka, Saina yang dia kenal dengan wanita yang lembut, ramah, dan peduli bisa semarah itu. Tidak menyangka wanita tersebut dapat menyakitinya seperti ini. Mungkinkah kini karma sedang berlaku. Henry hanya bisa mengiyakan.

*

Hujan di bulan Oktober. Walaupun Henry sudah membungkus dirinya dengan dua lapis selimut tetap saja hawa dingin sepertinya dengan gagah memeluknya dengan kuat. Dia melihat ke jam dinding. Jam 6:30 a.m. tumben sekali dia sudah bangun jam segini. Dia mencoba meraih handphonenya dan melihat tidak ada pesan satu pun—dari Saina. Tak ada lagi yang menyiapkan bubur ayam di pagi hari. Tidak ada lagi yang menyiram taman kecilnya. Tak ada lagi yang memperhatikan sosoknya. Henry menyadari bahwa dia cowo brengsek. 
Merasakan rindu saat merasakan kehilangan.

Henry hanya bisa menghela napas berat sambil menenggelamkan dirinya dalam selimut berusaha mencari kehangatan yang ada dalamnya, tapi tetap saja dia tidak menemukannya. Entah sudah berapa lama rintik hujan jatuh, sampai dinginnya menusuk sampai tulang. Hanya sosok Saina yang dia harapkan akan menyiapkan teh hangat di sebelah tempat tidurnya.

Sekali lagi Henry menghela napas berat. Dia berusaha memejamkan mata dan berusaha tertidur pulas. Tapi bukannya napasnya yang teratur karena relaks, malah napasnya yang berburu dan tubuhnya yang terguncang, dan air matanya yang mengalir.

-Natasya- 


1 komentar: