Senin, 28 Mei 2012

Sweet Coffee


Hari ini dia berkunjung lagi. Tapi tak urung ada kebahagiaan yang menyelimuti. Aku bisa melihat garis wajahnya yang tampak lelah. Dia nyelonong masuk seakan itu adalah hal biasa, dan aku pun menganggap itu hal yang wajar. Aku bisa melihat rambutnya yang acak-acakan, dan mulai membayangkan aku bisa menyentuhnya, memainkan helaian rambutnya yang halus.

Aku mengambil dua cangkir, dan mulai meramu espresso kesukaannya. Dia tergila-gila dan menyarankanku untuk membuka usaha coffee shop. Lalu dia bercerita, dia akan mengerjakan pekerjaannya di sudut ruangan ditemani dengan kopi buatanku, dia berkata dia akan betah berjam-jam di sana. Aku hanya bisa tertawa mendengarnya. Saat air panas memenuhi kedua cangkir dan dengan cepat air berubah menjadi hitam kecoklatan, aku bisa menghirup aromanya dan merasa puas saat mencicipi rasanya.

Saat aku datang dan menyimpan cangkirnya di meja, aku bisa melihat wajahnya berubah menjadi sedikit cerah. Dia menghirup cangkirnya dan tersenyum, lalu mulai menyeruputnya. Ada kepuasan untuk diriku sendiri. Aku duduk di sebelahnya dan mulai menikmat cangkirku sendiri. Aku bisa menikmati wajahnya yang berangsur lemas yang tadinya kaku. Dan itu hal plus yang membuat rasa Espresso yang aku hirup terasa makin nikmat. Saat dia menyimpan kembali cangkirnya di atas meja. Aku tau saatnya aku mendengarkan ceritanya, apa saja.

Tapi dia hanya diam, menatap kosong ke depan. Aku hanya bisa menatap wajahnya sambil menunggu cerita apa yang akan dia ceritakan kali ini. Tapi dia membalas tatapanku dan tersenyum.

Sepertinya aku jatuh cinta, pada kopimu.”

Ucapnya sambil tersenyum. Aku sudah mendengarkan kata-kata itu berpuluh-puluh kali. Tapi tetap saja ada kebahagiaan tersendiri saat mendengarnya lagi.

“Aku tahu, dan aku jatuh cinta pada kata-katamu itu.”

Ujarku dengan senyum yang merekah. Aku bisa merasakan sapuan lembut bibirnya di keningku. Aku mengingat dengan baik sensasi yang aku rasakan. Lalu aku merasakan kepalanya yang tersandar di bahuku.

“Berbagilah, aku akan membantu kamu untuk menopangnya.”

Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan. Aku bisa merasakan beban yang dia bawa sendirian berpindah sedikit padaku.

“Terima kasih, dan kopinya juga.”

Aku mencoba untuk membaca matanya, ada guratan kesedihan di sana. Aku menyentuh alisnya, dan mengamati baik-baik mukanya. Aku takkan pernah lupa hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh, dan matanya yang lembut.

Aku bahagia mendengarnya.”

“Tidak, aku bahkan tidak bisa membuat hal yang membahagiakan.”

Aku menggeleng.

Aku bahagia kamu ada di sini. Di sebelahku.”

Dia hanya bisa tersenyum lemah.

Taukah kamu, aku tidak ingin kembali ke surga, karena di sana aku tidak bisa menemukan kopi seenak buatanmu.”

“Aku akan mengantarkannya, untukmu. Ke mana saja.”

“Bahkan kau tidak memiliki kurir untuk mengantarnya ke surga kalau begitu.”

“Kalau begitu aku sendiri yang akan mengantarnya.”

Aku bisa melihat raut wajahnya yang tidak setuju.

“Tidak, kau bahkan belum membangun café untuk kopi-kopimu.”

Tawaku berurai, tapi dia hanya diam saja.
                                                                                                ***
Dia datang lagi untuk kesekian kalinya, dengan segudang cerita yang dia bagi untukku. Aku suka mimik wajahnya yang dengan semangat menceritakan hal seru yang di alaminya. Kami berdua duduk di sofa kesukaan kami, kala itu senja dan warna oranyenya menghiasi ruangan itu. Kami menikmatinya dengan secangkir Cappucino.

Aku jatuh cinta pada kopimu.”

Untuk sekian kalinya dia mengatakan hal itu. Aku bisa merasakan perutku mulas karena senang.

Aku akan bahgia mendengernya terus.”

Balasku sambil tersenyum.

“Tapi,kalau aku kembali ke surga, apa kamu masih akan bahagia?”

Aku terdiam untuk beberapa saat. Lalu aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Aku mulai gelisah dengan kata-katanya tadi.

Kamu bukan malaikat yang turun untuk mencintai kopi-ku dan enggan kembali untuk itu kan?”

Ada keheningan yang terjadi diantara kami. Aku sibuk memikirkan skenario-skenario yang terburuk. Dan aku sangat berharap aku bukanlah pemeran dalamnya. Sungguh, aku sempat terlintas bagaimana jika rutinitas kami berdua ini benar-benar terhenti? Membayangkannya pun aku takut. Aku mengelus tangannya lalu menjatuhkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang lembut dan berirama.

Aku akan merindukan kopimu.”

Akhirnya dia bersuara. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya lekat.

“Kamu jatuh cinta pada kopi-ku atau aku?”

Dia bergerak gelisah dan membuang muka, menatap lekat jam dinding.

Aku harus pergi sekarang.”

Tidak pernah ada alasan untuk pulang.

Biarkan kali ini aku ikut bersamamu. Jangan pergi, kumohon.”

Aku sama sekali tidak bisa tersenyum seperti senyumnya yang sedang merekah.

Berjanjilah untuk kembali.”
                                                                                                ***
Dia menepati janjinya. Dia kembali dengan segudang ceritanya. Bahkan tak ada kesempatan untukku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku selalu bahagia di buatnya dengan ceritanya. Hanya saja ceritanya tentang surga seakan-akan dia benar-benar berasal dari surga.

Bagiku, dia paket malaikat spesial yang turun dari surga.

Hanya kali ini dia datang dengan berita yang membahagiakan sekaligus membuatku tertegun. Dia memutuskan untuk pergi keluar, untuk belajar menjadi seorang barista. Dia bilang dia akan menjadi barista yang hebat. Dia akan mempelajari seluk-beluk kopi-kopi di dunia. Dia berjanji akan meramu kopi buatannya untukku.

Aku ingin membuatkan kopi  buatanku untukmu, suatu saat nanti.”

Aku bisa melihat kesungguhan dari matanya yang berkilat bersemangat. Aku hanya bisa tertegun, aku bingung aku harus sedih atau terharu kali ini. Aku menggeleng.

Kamu akan meninggalkanku?

Aku melihat kesedihat yang terpancar dari matanya. Matanya memberikan semua jawaban. Dulu, kami pernah meramu kopi bersama. Aku mengajarkan bagaimana membuat kopi kepadanya. Tapi, hasilnya dia tidak bisa membuat kopi seenak buatanku. Semenjak itu dia tidak ingin membuat kopi lagi.

Tidak, aku ingin menunjukkan padamu. Percayalah, aku akan kembali.”

Aku bisa merasakan jemarinya menyapu lembut mataku yang berlinang air mata.

Kumohon, jangan tinggalkan aku. Biarkan aku ikut bersamamu.”

Tidak, selama aku pergi kamu harus membangun café dengan kopi-kopi buatanmu.”

Ucapnya lirih sambil merengkuhku. Aku terbenam dalam tubuhnya, menghirop aroma tubuhnya dalam-dalam.

Berjanjilah untuk pulang.”

Kamu adalah tempat untukku pulang, tunggulah. Kumohon, percayalah padaku.

Aku bisa merasakan rengkuhannya yang semakin kuat. Sungguh, aku hanya ingin seperti ini. Aku tak yakin 
bisa menjalankan hidupku sendiri tanpa bayangnya. Mungkin nanti kenangan akan menghantuiku setiap saat.

Aku rela di perbudak oleh kenangan kita saat kau pergi nanti. Tapi, cita-citamu lebih penting. Kau 
harus berjanji suatu saat nanti aku bisa menghirup aroma kopi buatanmu.”

Tentu saja. Setiap sore kita akan menikmati sore dengan cangkir kopi buatanku. Aku akan mendengar kau memujinya. Aku menanti semua itu.”

Aku mengangguk sambil menahan senyumku. Tapi tak dapat di tahan air mataku luruh, membasahi kemeja yang dia pakai. Aku bisa merasakan kecupannya di kepalaku.

Aku tak sabar menanti itu semua. Maka itu, cepatlah pulang. Disana kamu akan menerima setiap doaku tiap malam.”

Terima kasih. Untuk kopi-mu. Untuk kepercayaanmu. Untuk kehadiranmu.”

Kami menghabiskan sisa sore itu dengan sisa kopi di cangkir kami masing-masing. Kami mengucapkan janji-janji kami berdua. Dia menitip pesan untuk keluar melihat bulan setiap malam. Walaupun jarak akan membentangkan anatara aku dan dia, tapi kami masih bisa melihat satu bulan, bersama-sama.

-Natasya-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar