Hari ini dia berkunjung lagi. Tapi tak urung ada kebahagiaan
yang menyelimuti. Aku bisa melihat garis wajahnya yang tampak lelah. Dia nyelonong
masuk seakan itu adalah hal biasa, dan aku pun menganggap itu hal yang wajar. Aku
bisa melihat rambutnya yang acak-acakan, dan mulai membayangkan aku bisa
menyentuhnya, memainkan helaian rambutnya yang halus.
Aku mengambil dua cangkir, dan mulai meramu espresso
kesukaannya. Dia tergila-gila dan menyarankanku untuk membuka usaha coffee shop.
Lalu dia bercerita, dia akan mengerjakan pekerjaannya di sudut ruangan ditemani
dengan kopi buatanku, dia berkata dia akan betah berjam-jam di sana. Aku hanya
bisa tertawa mendengarnya. Saat air panas memenuhi kedua cangkir dan dengan
cepat air berubah menjadi hitam kecoklatan, aku bisa menghirup aromanya dan
merasa puas saat mencicipi rasanya.
Saat aku datang dan menyimpan cangkirnya di meja, aku bisa
melihat wajahnya berubah menjadi sedikit cerah. Dia menghirup cangkirnya dan
tersenyum, lalu mulai menyeruputnya. Ada kepuasan untuk diriku sendiri. Aku duduk
di sebelahnya dan mulai menikmat cangkirku sendiri. Aku bisa menikmati wajahnya
yang berangsur lemas yang tadinya kaku. Dan itu hal plus yang membuat rasa
Espresso yang aku hirup terasa makin nikmat. Saat dia menyimpan kembali
cangkirnya di atas meja. Aku tau saatnya aku mendengarkan ceritanya, apa saja.
Tapi dia hanya diam, menatap kosong ke depan. Aku hanya bisa
menatap wajahnya sambil menunggu cerita apa yang akan dia ceritakan kali ini. Tapi
dia membalas tatapanku dan tersenyum.
“Sepertinya aku jatuh
cinta, pada kopimu.”
Ucapnya sambil tersenyum. Aku sudah mendengarkan kata-kata
itu berpuluh-puluh kali. Tapi tetap saja ada kebahagiaan tersendiri saat
mendengarnya lagi.
“Aku tahu, dan aku
jatuh cinta pada kata-katamu itu.”
Ujarku dengan senyum yang merekah. Aku bisa merasakan sapuan
lembut bibirnya di keningku. Aku mengingat dengan baik sensasi yang aku
rasakan. Lalu aku merasakan kepalanya yang tersandar di bahuku.
“Berbagilah, aku akan
membantu kamu untuk menopangnya.”
Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan. Aku bisa merasakan
beban yang dia bawa sendirian berpindah sedikit padaku.
“Terima kasih, dan
kopinya juga.”
Aku mencoba untuk membaca matanya, ada guratan kesedihan di
sana. Aku menyentuh alisnya, dan mengamati baik-baik mukanya. Aku takkan pernah
lupa hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh, dan matanya yang lembut.
“Aku bahagia
mendengarnya.”
“Tidak, aku bahkan
tidak bisa membuat hal yang membahagiakan.”
Aku menggeleng.
“Aku bahagia kamu ada
di sini. Di sebelahku.”
Dia hanya bisa tersenyum lemah.
“Taukah kamu, aku
tidak ingin kembali ke surga, karena di sana aku tidak bisa menemukan kopi
seenak buatanmu.”
“Aku akan
mengantarkannya, untukmu. Ke mana saja.”
“Bahkan kau tidak
memiliki kurir untuk mengantarnya ke surga kalau begitu.”
“Kalau begitu aku
sendiri yang akan mengantarnya.”
Aku bisa melihat raut wajahnya yang tidak setuju.
“Tidak, kau bahkan belum
membangun café untuk kopi-kopimu.”
Tawaku berurai, tapi dia hanya diam saja.
***
Dia datang lagi untuk kesekian kalinya, dengan segudang
cerita yang dia bagi untukku. Aku suka mimik wajahnya yang dengan semangat
menceritakan hal seru yang di alaminya. Kami berdua duduk di sofa kesukaan
kami, kala itu senja dan warna oranyenya menghiasi ruangan itu. Kami menikmatinya
dengan secangkir Cappucino.
“Aku jatuh cinta pada
kopimu.”
Untuk sekian kalinya dia mengatakan hal itu. Aku bisa
merasakan perutku mulas karena senang.
“Aku akan bahgia
mendengernya terus.”
Balasku sambil tersenyum.
“Tapi,kalau aku
kembali ke surga, apa kamu masih akan bahagia?”
Aku terdiam untuk beberapa saat. Lalu aku meraih tangannya
dan menggenggamnya erat. Aku mulai gelisah dengan kata-katanya tadi.
“Kamu bukan malaikat
yang turun untuk mencintai kopi-ku dan enggan kembali untuk itu kan?”
Ada keheningan yang terjadi diantara kami. Aku sibuk memikirkan
skenario-skenario yang terburuk. Dan aku sangat berharap aku bukanlah pemeran
dalamnya. Sungguh, aku sempat terlintas bagaimana jika rutinitas kami berdua
ini benar-benar terhenti? Membayangkannya pun aku takut. Aku mengelus tangannya
lalu menjatuhkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang
lembut dan berirama.
“Aku akan merindukan
kopimu.”
Akhirnya dia bersuara. Aku mengangkat kepalaku dan
menatapnya lekat.
“Kamu jatuh cinta pada
kopi-ku atau aku?”
Dia bergerak gelisah dan membuang muka, menatap lekat jam
dinding.
“Aku harus pergi
sekarang.”
Tidak pernah ada alasan untuk pulang.
“Biarkan kali ini aku
ikut bersamamu. Jangan pergi, kumohon.”
Aku sama sekali tidak bisa tersenyum seperti senyumnya yang
sedang merekah.
“Berjanjilah untuk
kembali.”
***
Dia menepati janjinya. Dia kembali dengan segudang
ceritanya. Bahkan tak ada kesempatan untukku bertanya apa yang sebenarnya
terjadi. Aku selalu bahagia di buatnya dengan ceritanya. Hanya saja ceritanya
tentang surga seakan-akan dia benar-benar berasal dari surga.
Bagiku, dia paket malaikat spesial yang turun dari surga.
Hanya kali ini dia datang dengan berita yang membahagiakan
sekaligus membuatku tertegun. Dia memutuskan untuk pergi keluar, untuk belajar
menjadi seorang barista. Dia bilang dia akan menjadi barista yang hebat. Dia akan
mempelajari seluk-beluk kopi-kopi di dunia. Dia berjanji akan meramu kopi
buatannya untukku.
“Aku ingin membuatkan
kopi buatanku untukmu, suatu saat nanti.”
Aku bisa melihat kesungguhan dari matanya yang berkilat
bersemangat. Aku hanya bisa tertegun, aku bingung aku harus sedih atau terharu
kali ini. Aku menggeleng.
“Kamu akan
meninggalkanku?”
Aku melihat kesedihat yang terpancar dari matanya. Matanya memberikan
semua jawaban. Dulu, kami pernah meramu kopi bersama. Aku mengajarkan bagaimana
membuat kopi kepadanya. Tapi, hasilnya dia tidak bisa membuat kopi seenak
buatanku. Semenjak itu dia tidak ingin membuat kopi lagi.
“Tidak, aku ingin
menunjukkan padamu. Percayalah, aku akan kembali.”
Aku bisa merasakan jemarinya menyapu lembut mataku yang
berlinang air mata.
“Kumohon, jangan
tinggalkan aku. Biarkan aku ikut bersamamu.”
“Tidak, selama aku
pergi kamu harus membangun café dengan kopi-kopi buatanmu.”
Ucapnya lirih sambil merengkuhku. Aku terbenam dalam
tubuhnya, menghirop aroma tubuhnya dalam-dalam.
“Berjanjilah untuk
pulang.”
“Kamu adalah tempat
untukku pulang, tunggulah. Kumohon, percayalah padaku.”
Aku bisa merasakan rengkuhannya yang semakin kuat. Sungguh,
aku hanya ingin seperti ini. Aku tak yakin
bisa menjalankan hidupku sendiri
tanpa bayangnya. Mungkin nanti kenangan akan menghantuiku setiap saat.
“Aku rela di perbudak
oleh kenangan kita saat kau pergi nanti. Tapi, cita-citamu lebih penting. Kau
harus
berjanji suatu saat nanti aku bisa menghirup aroma kopi buatanmu.”
“Tentu saja. Setiap sore
kita akan menikmati sore dengan cangkir kopi buatanku. Aku akan mendengar kau
memujinya. Aku menanti semua itu.”
Aku mengangguk sambil menahan senyumku. Tapi tak dapat di
tahan air mataku luruh, membasahi kemeja yang dia pakai. Aku bisa merasakan
kecupannya di kepalaku.
“Aku tak sabar menanti
itu semua. Maka itu, cepatlah pulang. Disana kamu akan menerima setiap doaku
tiap malam.”
“Terima kasih. Untuk kopi-mu.
Untuk kepercayaanmu. Untuk kehadiranmu.”
Kami menghabiskan sisa sore itu dengan sisa kopi di cangkir
kami masing-masing. Kami mengucapkan janji-janji kami berdua. Dia menitip pesan
untuk keluar melihat bulan setiap malam. Walaupun jarak akan membentangkan
anatara aku dan dia, tapi kami masih bisa melihat satu bulan, bersama-sama.
-Natasya-




