Senin, 14 November 2011

Goodbye.

Perpaduan kuning, orange, jingga, berpadu menjadi perpaduan yang menghiasi mataku sekarang, sempat terucap kata syukur dalam hati pada Tuhan yang menciptakan lukisan yang sangat indah ini. Aku memandangnya dengan mata yang berbinar-binar sambil menerka-nerka apa aku bisa ikut bersama matahari yang kembali ke peraduannya, dan apa yang terjadi jika itu benar terjadi. Semilir angin yang menerpa mukaku refleks membuatku menutup mata sambil menikmati angin yang mengelus kulitku. Semakin lama bulu kudukku meremang karena suhu yang meningkat, tapi aku tak menghiraukan itu semua, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

Aku punya duniaku sendiri, dunia yang aku bangun sendiri. Begitupun dia, dia memiliki dunianya sendiri, jalannya sendiri. Sempat aku berpikir, apakah aku bisa menjadi bagian dari dunianya? Tidak bisa. Itu hak dia, dan aku hanya bisa menerka-nerka hal yang tak mungkin terjadi. Hatiku bergemuruh tanpa sebab. Tak terbendung lagi, air mataku mengalir perlahan. Entahlah ini cara yang paling ampuh untuk melampiaskan semuanya. Tapi, aku bukan tipe perempuan yang meraung-raung untuk melampiaskan semua itu. Aku rasakan aliran yang ada di pipiku tetap menutup mataku, sambil mengatur kembali detak jantungku ke normal. Lalu di tutup dengan helaan napas yang panjang. Aku membuka mataku dan tersenyum. Tidak ada gunanya tersungkur terlalu lama, aku harus bangkit, aku ingin menikmati hidupku sendiri, duniaku.

Aku tidak akan jatuh terlalu dalam gara-gara seorang laki-laki, dia masa laluku. Aku tidak akan melupakannya, aku akan menyimpan memori tentang kami berdua pada tempatnya. Aku akan membawa memoriku itu sampai kapanpun, tak ada gunanya menghapus itu semua. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, mungkin dia sudah lupa tentangku, dan aku akan menerima semua itu. Aku lega. Topeng yang selalu kupakai akhirnya bisa kulepas. Dulu, hidupku tak lengkap tanpanya. Dulu, aku berpura-pura bahagia melihatnya dengan orang lain. Dulu, aku tak pernah rela. Dan aku muak dengan semua itu. Cukup. Aku tidak akan memikirkan lagi tentang dirinya. Mungkin ini jalan yang akan kutempuh, tanpa dirinya.

Selamat tinggal kamu yang dulu tangannya bisa kugapai, kamu yang dulu mengisi relung hatiku tiap hari, kamu yang selalu berjalan di sisiku menderapkan kaki bersama-sama, kamu yang dulu selalu bisa membuat detak jantungku berderu. Memori itu sudah kumasukan ke kotak memori, dan sudah kukunci rapat-rapat.

-Ntsy-

2 komentar: