Jumat, 01 Juni 2012

Aku Memang Tidak Sebaik Masa Lalumu


Gadis itu berjalan dengan tangannya yang memegang erat payung sebelah tangan dan sebelah tangannya memegang kantong kresek. Senyumnya merekah walau rintik hujan mehujam tanpa ampun payungnya, walaupun sepatunya kini sudah basah karena genangan air yang ia lewati di pinggir jalan. Di persimpangan dia berbelok ke sebuah jalan yang lebih kecil. Di depannya tampak jelas rumah yang sederhana namun tampak nyaman.

Masih terlalu pagi, tapi tukang sayur tidak pernah absen untuk menjajakan dagangannya. Sekilas gadis itu memberikan senyumnya pada si tukang sayur yang membalas dengan senyumnya yang hangat. Dia bisa merasakan dinginnya gembok gerbang rumah tersebut, lalu membukanya, berusaha meminimalisir suara gesekan besi yang mulai berkarat. Dengan cepat dia masuk dan menutup gerbang. Dia mulai menikmati langkahnya saat melewati taman kecil namun terawat.

Saina menggapai kenop pintu dan perlahan memutarnya. Dia bisa melihat isi rumah yang berantakan lalu tersenyum. Dia akan senang hati membereskannya. Saat pintu di tutup, dia menuju meja makan dan menyimpan kantong kresek yang dia bawa sedari tadi, lalu mengeluarkan bubur yang masih hangat. Senyumnya makin lebar saat mengambil sebuah mangkuk dan menumpahkan bubur dalam plastik ke dalam mangkuk.

Setelah puas melihat buburnya, dia mengambil cangkir dan menyeduh teh. Teh yang tidak begitu manis dan tentunya hangat. Dengan hati-hati dia membawa nampan dengan bubur dan teh hangat yang sudah siapkan tadi. Melewati ruang tamu dengan majalah di mana-mana. Dia berhenti di sebuah kamar lalu membukanya dengan perlahan. Mengamati seseorang yang sedang tertidur pulas di balik selimutnya. Saina berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara sedikitpun lalu menyimpan nampan di sebelah tempat tidur.

Saat keluar kamar dia langsung mengambil sapu dan mulai membereskan rumah yang begitu berantakan. Bukan beban untuk Saina jika itu ada kaitannya dengan Henry. Apapun akan dia kerjakan dengan senang hati.

“Ngapain kamu di sini?”

Saina melihat Henry yang baru saja keluar dari kamarnya. Rambutnya yang acak-acakan selalu mempesona.

“Sudah makan buburnya?”

“Tidak. Aku tidak suka makanan yang dingin di pagi hari.”

“Oh, mau kupanaskan?”

“Tidak perlu! Untuk apa kamu datang ke sini?!”

“Aku hanya ingin membawakan sarapan untukmu dan kulihat di sini harus di bersihkan.”

“Keluarlah! Untuk apa kamu perhatian sama aku?”

“Aku hanya ingin melakukannya.”

“Kayak Sherla dong! Dia mau nglakuin apa yang aku suruh!”

“Oh, begitu ya. Ya sudah aku pergi dulu, kalo mau sarapan bisa panaskan buburnya sendiri kan? Aku pergi 
dulu kalau begitu. Have a nice day.

Saina mengambil tas tangannya dan bergegas keluar dari rumah tersebut. Mukanya yang muram tidak menjamin hari ini dia akan melewati hari yang menyenangkan.

*

Saina yakin dia tidak salah orang. Jelas-jelas itu Henry yang sedang duduk di café sendirian. Dengan langkah terburu-buru Saina masuk kedalam café lalu berjalan ke meja Henry dan duduk di sebelahnya. Henry hanya bisa menunjukkan wajahnya yang heran.

“Kamu kenapa sih belakangan ini?”

“Memangnya kenapa? Kamu kan cuman pacar aku bukan istriku.” Ucap Henry ketus lalu memalingkan 
wajahnya ke koran hari ini. Siana hanya menundukkan kepalanya.

“Apakah kamu pernah menganggapku bagian penting dalam dirimu?” kepalanya menengadah seketika menatap wajah Henry lekat.

“Kamu ngomong apa sih? Aku kan selalu menghargai kamu sebagai seorang pacar.” Ucapnya kini tak kalah ketus.

“Padahal aku tau semuanya tentang dirimu, bahkan hal detail apapun tentangmu tak pernah ku anggap hal yang kecil, selalu kuanggap hal yang penting.” Jelas Saina dengan berlinang air mata.

“Dasar perempuan! Selalu menangis sebagai alat pamungkasnya! Jangan menangis di depanku, Sherla tidak cengeng seperti kamu tau? Jelas dia lebih tegar daripada kamu.” Ucap Henry tanpa rasa kasihan di depan Saina.

“Memang benar… aku tidak sebaik dia. Memang benar aku tidak secantik dia. Memang benar aku tidak sekuat dia. Jelas aku tidak ada apa-apanya dibanding dengan dirinya! Tapi bukankah dia hanya masa lalumu?”

“Sherla memang masa laluku tapi memang dia lebih baik daripada dirimu!” bentak Henry.

“Lihat? Kau bahkan masih senang di masa lalumu. Kamu tidak pernah mau melihat masa depanmu. Kamu 
tidak pernah memandang aku!” Henry bisa melihat emosi yang terpancar dari muka Saina. Saina bisa merasakan hatinya sakit, seperti berdenyut-denyut.

“Apakah itu penting?!”

“Aku bahkan kecewa pada diriku sendiri, aku tidak berhasil melepaskan kamu dari masa lalumu. Kau tau apa artinya? Aku tidak berhasil membuatmu melupakan masa lalumu.” Kini terlihat jelas Saina tak bisa membendung air matanya.

“Bagiku masa lalu itu bukan untuk di lupakan!”

“Kamu masih ingin berhenti di masa lalumu? Baiklah, lebih baik kita sudahi saja semua ini, kalau kau benar-
benar mencintai masa lalumu dan terus merindukannya. Kurasa tak ada gunanya juga kita teruskan semua ini.” Karena tidak tega melihat Saina menangis, Henry menjadi tidak tega.

“Sayang… bukan begitu maksudku. Maafkan aku…” ucap Henry selembut mungkin.

“Percuma ada kata maaf kalau kamu tetap seperti ini, terus-menerus mengulanginya. Pergilah, lagipula aku juga tidak membutuhkanmu di masa depanku nanti.” Ucap Saina dengan ketusnya lalu berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan Henry.

Henry bahkan tidak menyangka, Saina yang dia kenal dengan wanita yang lembut, ramah, dan peduli bisa semarah itu. Tidak menyangka wanita tersebut dapat menyakitinya seperti ini. Mungkinkah kini karma sedang berlaku. Henry hanya bisa mengiyakan.

*

Hujan di bulan Oktober. Walaupun Henry sudah membungkus dirinya dengan dua lapis selimut tetap saja hawa dingin sepertinya dengan gagah memeluknya dengan kuat. Dia melihat ke jam dinding. Jam 6:30 a.m. tumben sekali dia sudah bangun jam segini. Dia mencoba meraih handphonenya dan melihat tidak ada pesan satu pun—dari Saina. Tak ada lagi yang menyiapkan bubur ayam di pagi hari. Tidak ada lagi yang menyiram taman kecilnya. Tak ada lagi yang memperhatikan sosoknya. Henry menyadari bahwa dia cowo brengsek. 
Merasakan rindu saat merasakan kehilangan.

Henry hanya bisa menghela napas berat sambil menenggelamkan dirinya dalam selimut berusaha mencari kehangatan yang ada dalamnya, tapi tetap saja dia tidak menemukannya. Entah sudah berapa lama rintik hujan jatuh, sampai dinginnya menusuk sampai tulang. Hanya sosok Saina yang dia harapkan akan menyiapkan teh hangat di sebelah tempat tidurnya.

Sekali lagi Henry menghela napas berat. Dia berusaha memejamkan mata dan berusaha tertidur pulas. Tapi bukannya napasnya yang teratur karena relaks, malah napasnya yang berburu dan tubuhnya yang terguncang, dan air matanya yang mengalir.

-Natasya- 


Senin, 28 Mei 2012

Sweet Coffee


Hari ini dia berkunjung lagi. Tapi tak urung ada kebahagiaan yang menyelimuti. Aku bisa melihat garis wajahnya yang tampak lelah. Dia nyelonong masuk seakan itu adalah hal biasa, dan aku pun menganggap itu hal yang wajar. Aku bisa melihat rambutnya yang acak-acakan, dan mulai membayangkan aku bisa menyentuhnya, memainkan helaian rambutnya yang halus.

Aku mengambil dua cangkir, dan mulai meramu espresso kesukaannya. Dia tergila-gila dan menyarankanku untuk membuka usaha coffee shop. Lalu dia bercerita, dia akan mengerjakan pekerjaannya di sudut ruangan ditemani dengan kopi buatanku, dia berkata dia akan betah berjam-jam di sana. Aku hanya bisa tertawa mendengarnya. Saat air panas memenuhi kedua cangkir dan dengan cepat air berubah menjadi hitam kecoklatan, aku bisa menghirup aromanya dan merasa puas saat mencicipi rasanya.

Saat aku datang dan menyimpan cangkirnya di meja, aku bisa melihat wajahnya berubah menjadi sedikit cerah. Dia menghirup cangkirnya dan tersenyum, lalu mulai menyeruputnya. Ada kepuasan untuk diriku sendiri. Aku duduk di sebelahnya dan mulai menikmat cangkirku sendiri. Aku bisa menikmati wajahnya yang berangsur lemas yang tadinya kaku. Dan itu hal plus yang membuat rasa Espresso yang aku hirup terasa makin nikmat. Saat dia menyimpan kembali cangkirnya di atas meja. Aku tau saatnya aku mendengarkan ceritanya, apa saja.

Tapi dia hanya diam, menatap kosong ke depan. Aku hanya bisa menatap wajahnya sambil menunggu cerita apa yang akan dia ceritakan kali ini. Tapi dia membalas tatapanku dan tersenyum.

Sepertinya aku jatuh cinta, pada kopimu.”

Ucapnya sambil tersenyum. Aku sudah mendengarkan kata-kata itu berpuluh-puluh kali. Tapi tetap saja ada kebahagiaan tersendiri saat mendengarnya lagi.

“Aku tahu, dan aku jatuh cinta pada kata-katamu itu.”

Ujarku dengan senyum yang merekah. Aku bisa merasakan sapuan lembut bibirnya di keningku. Aku mengingat dengan baik sensasi yang aku rasakan. Lalu aku merasakan kepalanya yang tersandar di bahuku.

“Berbagilah, aku akan membantu kamu untuk menopangnya.”

Hanya kata itu yang dapat aku ucapkan. Aku bisa merasakan beban yang dia bawa sendirian berpindah sedikit padaku.

“Terima kasih, dan kopinya juga.”

Aku mencoba untuk membaca matanya, ada guratan kesedihan di sana. Aku menyentuh alisnya, dan mengamati baik-baik mukanya. Aku takkan pernah lupa hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh, dan matanya yang lembut.

Aku bahagia mendengarnya.”

“Tidak, aku bahkan tidak bisa membuat hal yang membahagiakan.”

Aku menggeleng.

Aku bahagia kamu ada di sini. Di sebelahku.”

Dia hanya bisa tersenyum lemah.

Taukah kamu, aku tidak ingin kembali ke surga, karena di sana aku tidak bisa menemukan kopi seenak buatanmu.”

“Aku akan mengantarkannya, untukmu. Ke mana saja.”

“Bahkan kau tidak memiliki kurir untuk mengantarnya ke surga kalau begitu.”

“Kalau begitu aku sendiri yang akan mengantarnya.”

Aku bisa melihat raut wajahnya yang tidak setuju.

“Tidak, kau bahkan belum membangun café untuk kopi-kopimu.”

Tawaku berurai, tapi dia hanya diam saja.
                                                                                                ***
Dia datang lagi untuk kesekian kalinya, dengan segudang cerita yang dia bagi untukku. Aku suka mimik wajahnya yang dengan semangat menceritakan hal seru yang di alaminya. Kami berdua duduk di sofa kesukaan kami, kala itu senja dan warna oranyenya menghiasi ruangan itu. Kami menikmatinya dengan secangkir Cappucino.

Aku jatuh cinta pada kopimu.”

Untuk sekian kalinya dia mengatakan hal itu. Aku bisa merasakan perutku mulas karena senang.

Aku akan bahgia mendengernya terus.”

Balasku sambil tersenyum.

“Tapi,kalau aku kembali ke surga, apa kamu masih akan bahagia?”

Aku terdiam untuk beberapa saat. Lalu aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Aku mulai gelisah dengan kata-katanya tadi.

Kamu bukan malaikat yang turun untuk mencintai kopi-ku dan enggan kembali untuk itu kan?”

Ada keheningan yang terjadi diantara kami. Aku sibuk memikirkan skenario-skenario yang terburuk. Dan aku sangat berharap aku bukanlah pemeran dalamnya. Sungguh, aku sempat terlintas bagaimana jika rutinitas kami berdua ini benar-benar terhenti? Membayangkannya pun aku takut. Aku mengelus tangannya lalu menjatuhkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang lembut dan berirama.

Aku akan merindukan kopimu.”

Akhirnya dia bersuara. Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya lekat.

“Kamu jatuh cinta pada kopi-ku atau aku?”

Dia bergerak gelisah dan membuang muka, menatap lekat jam dinding.

Aku harus pergi sekarang.”

Tidak pernah ada alasan untuk pulang.

Biarkan kali ini aku ikut bersamamu. Jangan pergi, kumohon.”

Aku sama sekali tidak bisa tersenyum seperti senyumnya yang sedang merekah.

Berjanjilah untuk kembali.”
                                                                                                ***
Dia menepati janjinya. Dia kembali dengan segudang ceritanya. Bahkan tak ada kesempatan untukku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku selalu bahagia di buatnya dengan ceritanya. Hanya saja ceritanya tentang surga seakan-akan dia benar-benar berasal dari surga.

Bagiku, dia paket malaikat spesial yang turun dari surga.

Hanya kali ini dia datang dengan berita yang membahagiakan sekaligus membuatku tertegun. Dia memutuskan untuk pergi keluar, untuk belajar menjadi seorang barista. Dia bilang dia akan menjadi barista yang hebat. Dia akan mempelajari seluk-beluk kopi-kopi di dunia. Dia berjanji akan meramu kopi buatannya untukku.

Aku ingin membuatkan kopi  buatanku untukmu, suatu saat nanti.”

Aku bisa melihat kesungguhan dari matanya yang berkilat bersemangat. Aku hanya bisa tertegun, aku bingung aku harus sedih atau terharu kali ini. Aku menggeleng.

Kamu akan meninggalkanku?

Aku melihat kesedihat yang terpancar dari matanya. Matanya memberikan semua jawaban. Dulu, kami pernah meramu kopi bersama. Aku mengajarkan bagaimana membuat kopi kepadanya. Tapi, hasilnya dia tidak bisa membuat kopi seenak buatanku. Semenjak itu dia tidak ingin membuat kopi lagi.

Tidak, aku ingin menunjukkan padamu. Percayalah, aku akan kembali.”

Aku bisa merasakan jemarinya menyapu lembut mataku yang berlinang air mata.

Kumohon, jangan tinggalkan aku. Biarkan aku ikut bersamamu.”

Tidak, selama aku pergi kamu harus membangun café dengan kopi-kopi buatanmu.”

Ucapnya lirih sambil merengkuhku. Aku terbenam dalam tubuhnya, menghirop aroma tubuhnya dalam-dalam.

Berjanjilah untuk pulang.”

Kamu adalah tempat untukku pulang, tunggulah. Kumohon, percayalah padaku.

Aku bisa merasakan rengkuhannya yang semakin kuat. Sungguh, aku hanya ingin seperti ini. Aku tak yakin 
bisa menjalankan hidupku sendiri tanpa bayangnya. Mungkin nanti kenangan akan menghantuiku setiap saat.

Aku rela di perbudak oleh kenangan kita saat kau pergi nanti. Tapi, cita-citamu lebih penting. Kau 
harus berjanji suatu saat nanti aku bisa menghirup aroma kopi buatanmu.”

Tentu saja. Setiap sore kita akan menikmati sore dengan cangkir kopi buatanku. Aku akan mendengar kau memujinya. Aku menanti semua itu.”

Aku mengangguk sambil menahan senyumku. Tapi tak dapat di tahan air mataku luruh, membasahi kemeja yang dia pakai. Aku bisa merasakan kecupannya di kepalaku.

Aku tak sabar menanti itu semua. Maka itu, cepatlah pulang. Disana kamu akan menerima setiap doaku tiap malam.”

Terima kasih. Untuk kopi-mu. Untuk kepercayaanmu. Untuk kehadiranmu.”

Kami menghabiskan sisa sore itu dengan sisa kopi di cangkir kami masing-masing. Kami mengucapkan janji-janji kami berdua. Dia menitip pesan untuk keluar melihat bulan setiap malam. Walaupun jarak akan membentangkan anatara aku dan dia, tapi kami masih bisa melihat satu bulan, bersama-sama.

-Natasya-


Jumat, 27 April 2012

I FOR YOU a novel by Orizuka



Suatu hari dalam hidupku, kau dan aku bertemu. Masih jelas di ingatanku sosokmu yang memukauku. Lidahku jadi kelu, mulutku terkatup rapat karena malu. Setiap malam, bayangmu menari-nari dalam benakku.

Ada sejuta alasan mengapa aku begitu memujamu. Kau menyinari relung gelap hatiku. Kau satu-satunya orang yang ingin kurengkuh. Kau bertanggung jawab atas segala rindu. Kau adalah yang teristimewa bagiku.

Tanda-tandanya sudah jelas: aku menyukaimu. Tetapi, bagaimana caranya aku mendekatimu? Kau begitu jauh, sulit kuraih dengan jari-jemariku.

Dan semakin lama, aku mulai menyadari satu hal. Bahwa kau dan aku mungkin ditakdirkan tak bisa bersatu….

                                                                                                ***
Semua orang miskin di dunia ini tidak berguna. Itu adalah prinsip yang dimiliki oleh Princessa Setiawan—anak seorang direktur berdarah Perancis dengan mata hazel—saat dirinya ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Tapi prinsip itu berubah seketika saat dirinya bertemu dengan Surya—cowok miskin yang sekelas dengan Cessa dengan mengandalkan beasiswanya—semuanya berubah saat Surya menghadang bola basket yang hampir melukai Cessa, dia menyadari ada orang lain yang bisa melindunginya selain Benjamin Andrews—pangeran yang di takdirkan untuk Cessa.

Setelah itu segalanya menjadi lebih ceria bagi Cessa, berbagi salam di pagi hari, menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan dan mendapatkan banyak pengetahuan dari Surya. Semua berjalan dengan bahagia, saat Benji dan Cessa mulai menemukan dunia mereka masing-masing. Tapi, setelah menemukan kebahagiaan masing-masing, Cessa dan Benji sadar bahwa mereka harus selalu bersama. Lalu, kesalahpahaman terjadi—mengapa mereka harus terus bersama dengan status Cessa pacar Surya dan Benji pacar Bulan?—seolah pangeran dan putri tersebut mempermainkan Surya dan Bulan.

Lalu semua yang buruk terjadi; Surya gagal mendapat beasiswanya, Benji memutuskan Bulan, dan penyakit Cessa memburuk. Tidak ada yang tahu Cessa mengidap penyakit yang langka—Von Willebrand Disease. Dan kini Surya tahu mengapa Benji dan Cessa tidak bisa di pisahkan—golongan darah yang mengalir dalam tubuh mereka berdua sama: AB rhesus negatif.

Saya sendiri tak habis pikir cerita yang di sampaikan oleh mba Orizuka ini memukau. Bukan cuman ceritanya yang mengharukan tapi banyak pengetahua juga lho. Siapa yang tau penyakit apa itu Von Willebrand Disease?  Selalu suka sama novel-novel mba Orizuka, cerita yang manis dengan ending yang manis pula. Semoga di novel selanjutnya semakin manis lagi ya J

Jika hal yang paling sulit untuk kamu lakukan adalah mengucap ‘selamat  tinggal’, saat itulah kamu tahu kamu sedang jatuh cinta.
-Bulan

-Natasya-


Minggu, 05 Februari 2012

Aku, Kamu dan Cerita Kita

Kala itu hanya tatapan kita yang beradu, tanpa kata yang keluar. Pertemuan pertama kita, masih ingat? Ya, aku begitu menyelami hitamnya bola matamu itu, teduh. Lalu setelah itu tatapanku mengikuti setiap gerak-gerikmu. Senyum ini selalu terkembang saat menyapu gerakan kecilmu; menaikkan kakimu di atas kaki yang lain, saat menulis, postur tubuhmu saat berjalan. Sungguh, tanpa kata-kata yang terucap rasa ini dapat terbit. Lama-lama memenuhi implus-implus di otakku yang kadang berhalusinasi seenaknya tentang sosokmu.  Salahkah aku jika terus-menerus menyimpan rasa ini? Sendirian. Padahal, betapa indahnya jika aku bisa membaginya bersamamu, sambil menatap langit sore yang indah. Tidak, romantis itu tidak harus sunset, kau tahu? Tangan kita saling bertaut saja itu sudah hal yang paling romantis.

Kamu yang selalu menyelami duniamu sendiri, duduk di dalam kelas sampai tak sadar bahwa bel istirahat sudah berbunyi, kamu terlalu sibuk dengan catatanmu sendiri, ingin saat itu aku duduk di sebelahmu menemanimu, tidak perlu kata yang terucap di antara kita, aku akan dengan senang hati melakukannya. Sudah ku bilang kan? Tanpa ada satu pun sesuatu yang terkuak di antara kita, aku bisa memahami presepsi tentang dirimu di hatiku ini. Tidak, aku tidak memaksamu untuk berkenalan denganku di tambah dengan senyummu itu. Aku sudah mengenal dirimu lebih jauh, walaupun kamu tidak pernah mengenalku.

Namun saat itu datang juga, kamu lulus dengan nilai yang memuaskan dan akan melanjutkan ke sekolah yang kamu inginkan selama ini dengan beasiswa yang kamu capai dengan susah payah. Kamu yang akan menikmati indahnya Big Ben saat malam, kamu yang akan melihat sungai Thames saat sore hari. Kala itu aku bisa memperhatikan senyummu saat mengetahui hasil ujian.  Saat itu kita saling menatap, kamu melempar senyum itu. Astaga, sungguh kamu begitu menawan.   Tapi saat itu aku ragu untuk berharap, adakah kesempatan rasa yang selalu tumbuh ini tersampaikan padamu?  Saat selesai pesta perpisahan, di depan gerbang sekolah, kamu tiba-tiba menggenggam tanganku dan menuntunnya ke belokkan sekolah, lalu langkahku terhenti begitu juga denganmu.

Aku akan melanjutkan sekolah di London, mungkin ini akan menjadi perjumpaan kita yang terakhir. Dan aku akan merindukan kamu. Maaf aku baru bisa mengatakannya saat ini, aku mencintaimu tapi aku tak bisa. Aku tidak akan tahan hari-hari tanpamu di sana, sungguh.

Kala itu aku hanya bisa menatapmu dengan bantuan penerangan lampu di belokkan sekolah itu, terlalu kaget dengan semua ini. Tapi aku bisa melihatnya, matamu yang teduh itu. Lalu dengan cepat air mataku luruh juga. Aku berusaha memasang senyumku di balik derai air mataku.

Aku akan selalu merindukanmu, percayalah. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya kita menatap satu sama lain. Maafkan aku juga karena aku menyimpan rasa ini sendirian, aku tahu aku seorang pengecut. Tapi, sungguh aku akan menunggumu di sini sampai kapanpun, kalau kamu yang meminta.

Aku bisa merasakan tanganmu yang mengisi tanganku, kamu menggenggamnya dengan erat. Lalu, saat beberapa menit kita hanya saling menatap dengan keheningan yang menyelubungi. Setelah itu kamu menggeleng dengan frustasi, tetap dengan jemari kita yang bertaut.

Aku sangat menyesal.

Lalu air matamu terbit di ujung matamu, kamu tidak berusaha menghapusnya.  Aku melepaskan sebelah tanganmu untuk menggapai kepalamu, dengan hati-hati aku menyapukan jemariku di matamu.

Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu, kamu hal yang paling penting. Aku akan menunggumu.

Kamu hanya bisa menatapku, lalu mengambil lagi tanganku yang tadi menghapus air matamu. Kamu mengambil beberapa tarikan napas.

Jangan menunggu aku, kamu harus menemukan seseorang selain aku. Aku tidak berani memberi janji yang belum pasti aku bisa penuhi, aku tidak ingin hatimu sakit.

Air mataku meluncur terus-menerus mendengar kata-katamu. Aku hanya bisa memejamkan mata, menenangkan emosi yang terbentuk karena situasi ini.

Baiklah. Janji padaku kamu akan bahagia di sana, belajar dengan sungguh-sungguh, dan mencapai apa yang kamu inginkan.

Kamu menganggukkan kepala dengan pelan, aku bisa tersenyum saat itu. Tapi aku tidak janji aku dapat melupakanmu begitu saja, kata hatiku.

Ingatlah ini, doaku akan selalu mengiringimu saat aku tidak ada untukmu. Percayalah.

Setelah kalimat itu, kita hanya bisa mengisi kesunyian dengan derai air mata, air mata kamu dan aku. Tangan kita yang saling menggenggam itu terus terpaut. Inilah perpisahan kita, aku dan kamu akan menemukan jalan masing-masing. Kita tidak butuh kata saat nanti kita tidak pernah berjumpa lagi, aku hanya bisa menerbangkan rinduku ke tempatmu, dan kamu akan melantunkan doa untukku setiap malam.



-Ntsy-


Sabtu, 21 Januari 2012

Rain Over Me by Arini Putri


"Ini cinta yang sulit. Kau dan aku ditakdirkan tak saling memiliki. Aku tak bisa mencintaimu seperti yang aku mau.

Namun, ketika dia hadir dalam hidupmu—di antara kita—aku pun sadar kebahagiaanku pelan-pelan akan memudar. Betapa tidak, dia bisa memberimu cinta dan perhatian. Menggenggam tanganmu hingga akhirnya kau terlelap di sisinya. Dia melakukan semua yang ingin aku berikan kepadamu. 

Dan hari ini, aku memandangi senja pertama yang kunikmati tanpa dirimu. Aku belajar berbahagia untukmu. Dia yang paling tepat. Aku tahu itu—tapi..., bagaimana denganku? Bagaimana caraku bahagia tanpa dirimu? "


***
Yuna adalah seorang gadis Indonesia yang menjadi adik tiri Kim Hyu-Bin. Kim Hyu-Bin, seorang anak laki-laki yang tampan dan sering berkelahi di sekolah, tetapi ayahnya adalah orang yang sukses dalam menjalani bisnis restoran di Korea. Di ceritakan bagaimana indahnya masa kecil Yuna dan Kim-Hyu-Bin; memandang indahnya senja, berangkat sekolah bersama, belajar bersepeda. Hingga seperti mimpi buruk berubah menjadi kenyataan; Yuna harus kembali ke Indonesia. Tentu saja menjadi pukulan yang hebat untuk Kim Hyu-Bin.

Lalu momen demi momen yang manis dalam buku ini selalu membuat saya hanyut. Ceritanya begitu mengalir dengan setting tempat di Korea. Perubahan sikap Kim Hyu-Bin dalam novel ini membuat saya tersenyum, hatinya yang begitu dingin mampu meleleh dengan hadirnya cinta di antaranya. Yuna yang memiliki rasa lebih dari seorang ‘adik’, membuat konflik yang benar-benar menguras emosi pembaca. Sikap Han Chae-Rin juga membuat saya terkikik, prinsipnya dalam menilai pria kaya dalam sisi negatif juga lenyap saat tokoh Kim Hyu-Bin hadir dalam hari-harinya, padahal seorang lelaki tak kalah kayanya begitu menggilai dirinya.

Usaha seorang Yoon Jeon-Seuk patut di acungi jempol. Usaha untuk mendapatkan seorang Han Chae-Rin benar-benar hebat. Tokoh lelaki yang sangat tegar, mencoba sekuat tenaga melupakan cintanya itu, dan akhirnya bertemu seseorang yang hampir memiliki nasib yang sama. Bersama dengan teman seperjuangannya itu mereka mencoba bangkit, bersama. Konflik demi konflik, momen demi momen dalam buku ini menghasilkan sebuah buku yang sangat luar biasa.

Tujuan novel ini sederhana, membuat kenangan tersendiri saat selesai membacanya dan membuat pembaca tersenyum saat membaca akhir ceritanya.” Kalimat ini (kalau tidak salah tulisannya seperti ini) di bagian “Thanks to” ini saya wujudkan. Ya, novel ini begitu mengesankan, dan bibir saya tak tahan untuk membentuk sebuah senyuman saat membaca ending dari buku ini. Buku yang sangat indah dari mba Arini Putri! Keep writing dan sukses dengan karya-karya selanjutnya.



Sabtu, 14 Januari 2012

Sebotol Hujan Rindu


Aku membuka pintu kamarku dengan malas-malasan, lalu menutupnya. Aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur dan memandang langit-langit kamar yang putih. Aku jadi ingat aku belum mandi sore. Dengan cepat aku melangkah ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Rasa saat setelah mandi mampu membuatku menjadi sedikit segar. Saat aku ingin mencari bedak, aku melangkah ke meja rias dan mengambil benda apa yang aku butuhkan. Saat aku ingin meraih bedak tersebut mataku menatap lekat benda yang sudah berdebu. ‘Apa itu?’ pikirku, sambil mengambil benda yang berdebu tersebut, dan membatalkan rencana untuk berbedak sejenak.


Saat berhasil meraih benda berdebu itu, aku hanya bisa menatap benda tersebut dengan nanar. Sebotol parfum. Entah sudah berapa lama parfum ini di sini hingga bisa berdebu seperti ini. Aku membersihkan debunya bermaksud untuk melihat parfum merk apa ini. Saat tangan ini berhasil menyingkirkan debu yang menempel, kini terlihat begitu jelas. Aku terkesiap saat tulisan merk itu dapat di baca dengan mataku, Tiba-tiba dadaku terasa sesak, degup janungku berdetak lebih cepat. Dengan tangan yang bergetar hebat aku memberanikan diri untuk mencium aromanya.

“Cssttt”

Aroma coklat yang kuat menyambut hidungku seketika. Dan saat itu juga tanganku bertambah bergetar. Baunya begitu kuat, mampu membuka lagi kotak memori di otakku. Ya, parfum ini miliknya. Seseorang yang dulu begitu istimewa di sudut hatiku. Bersama dengan itu juga kenangan anatara aku dan dirinya menyeruak tanpa ampun, menginjak-injak hati ini, semakin sesak. Tanpa di sadari air mata terbit di pelupuk mataku. Mataku mengabur menerawang jauh, mengingatkanku akan sebuah masa.

***

Aku menatap papan tulis putih itu dengan serius. Mengamati angka-angka yang tertera di sana. Otakku memikirkan mengapa angka tersebut ada di sana, dan mengapa itu bisa begitu. Rumus-rumus itu membuat jalan pikiranku menjadi kusut. Otak ini sudah menyerah bagaimana asal-muasal angka tersebut. Aku menghela napas dan menyenderkan punggung ke sandarannya. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kelas tempat kursusku. Semuanya melihat papan tulis lalu menuliskannya ke dalam buku mereka masing-masing. Situasi kursus yang membosankan, menurutku.

“Brak!”

Tiba-tiba ada sosok yang menjulang membuka pintu ruang kelasku dengan napas yang tersengal-sengal. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas dan pandangannya berhenti di guru lesku. Aku bisa melihat dia begitu khawatir. Dia mengambil oksigen di sekitarnya, seakan-akan dia akan kehilangan jika tidak menghirupnya cepat-cepat.

“Maaf bu saya terlambat. Tadi macet banget!” jelasnya di antara napasnya yang terburu-buru. Aku juga memperhatikan mukanya yang merah karena berlari dari tempat parkir ke kelas ini. Tiba-tiba seulas senyum terkembang di mulutku.

Dia lalu berjalan ke bangku belakang dan mulai mengeluarkan bukunya. Saat dia akan melihat ke papan tulis, matanya bertumbu dengan mataku. Aku merasa kaget karena tertangkap basah diam-diam memperhatikannya langsung menghadap ke depan dengan pipi memanas.
***
Aku hanya menatap pemandangan di depanku dengan perasaan kesal. Air turun dari langit dengan derasnya saat waktu kursusku telah berakhir. Saat tadi terpenjara dalam rumus-rumus yang rumit, kini terpenjara dalam hujan yang deras. Karena tidak mau mengambil resiko aku hanya bisa duduk dengan lunglai di kursi tunggu. Dinginnya hujan memelukku begitu erat. Aku hanya bisa mengencangkan jaket yang aku gunakan.

Tiba-tiba sebuah mobil jazz biru berhenti di depanku. Aku terlihat bingung sambil melihat ke arah jendela mobil. Kupikir orang yang menjemput, tapi saat jendela mobil tersebut turun, aku tersentak. Dia yang tadi terlambat. Ah, aku belum tau namanya, ngomong-ngomong.

“Rumah lo di mana?” tanyanya setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara bising yang hujan ciptakan. Aku hanya terdiam sejenak, masih belum sadar. ‘Dia menanyakan rumahku?’ kataku dalam hati.

“Daerah Dago atas, kenapa emang?” jawabku tak kalah keras. Aku bisa melihat senyumnya merekah. Itu senyum pertama yang aku hilat dari dirinya, dia tampan.

“Baguslah! Rumah gue searah ko, ayo masuk, gue antar lo pulang.”

“Hah? Ga salah? Gue ga kenal sama lo, main ajak pulang aja. Sekarang ini lagi musim penculikan tau!” jawabku kesal sembari membuang muka. Dia hanya mendengus geli. Lalu selanjutnya aku hanya terkejut melihat dia keluar dari mobilnya, berlari menerobos hujan yang deras, lalu dia ada di depanku sukses dengan tubuhnya yang basah kuyup.

“Lo ngapain sih?” Ujarku setengah berteriak kesal dengan kelakuannya ini. Dia hanya tersenyum simpul, seolah ini bukan masalah yang penting.

“Lo mikir penculik itu ikutan kursus?” tanyanya mengabaikan ucapanku tadi.

“Ya…. Ga ada salahnya juga kan jaga-jaga.” Dia menyeruak dengan tawanya. Ya, kali ini juga dia tertawa di depanku. Aku rekam suara tawanya dan menyimpannya baik-baik dalam ingatan.

“Gue Nico.” Katanya sambil menyodorkan tangannya. Aku melihat tangan tersebut sebentar, lalu meraihnya dengan ragu.

“Gue Dina.” Ada kehangatan yang menjalar saat persentuhan kulit kami berdua. Aku tenggelam dalam pesona matanya, jernih. Saat tangan kami berpisah, ada keinginan masih ingin menggenggamnya.

“Jadi? Lo mau nginep di sini atau mau di anter sama cowo ganteng?” katanya kepedean tingkat dewa. Aku memukul pundaknya.

“Eh, tapi gue ga bawa payung. Jadi gue ga bisa bukain pintu bak seorang pangeran mengantarkan putrinya menuju istana.”  Aku terbahak mendengarnya, ternyata dia orang yang cukup menyenangkan.

“Emangnya penting ya yang kayak begituan? Gimana kalo kita lomba lari dari sini sampai mobil?” Tantangku dengan wajah jahil, dia berpikir dengan mengerutkan dahinya.

“Siapa takut?” katanya mantap, sambil mengambil ancang-ancang berlari.

“Siap? Satu…dua…tiga!” sontak kami berdua berlari menerobos hujan yang masih deras. Aku begitu bersemangat akan memenangkan lomba kecil ini. Karena terlalu bersemangat aku tak dapat mengenali air yang menggenang tersebut ternyata sebuah lobang, otomatis aku tersungkur. Nico yang hampir menggapai pintu mobil melihat ke belakang, dan menahan tawa. Aku berusaha berdiri, sampai sebuah tangan menarik lenganku lembut. Kami berdiri berbarengan, di antara derasnya hujan kami menikmatinya. Aku menatap lekat matanya yang jernih itu. Lalu tiba-tiba kami tertawa berbarengan.

“Lo sih! Lari ga liat-liat! Udah ah ayo, liat kan lo jadi basah kuyup!” cecarnya, seraya kami berjalan menuju mobilnya.

“Lo juga basah kuyup.” Kataku membalasnya. Tiba-tiba dia berhenti, karena refleks aku menabrak punggungnya. Lalu dia berbalik dan menatapku.

“Lo tau? Lo itu ga bisa di kasih tau ya? Dasar keras kepala!” katanya agak keras sambil memegang pucuk kepalaku. Rasa dinginnya hujan tiba-tiba lenyap, seakan ada kehangatan yang mengguyur.

“Ayo! Lama-lama kita bisa masuk angin gara-gara terlalu lama main hujan-hujanan.” Katanya sambil menarikku ke dalam mobilnya. Aku membasahi jok mobilnya, tapi dia tidak begitu memikirkannya. Saat kami berdua sudah duduk di mobil, dis tiba-tiba membuka kaosnya yang basah kuyup dengan cepat dan mengambil kaos yang baru yang sudah dia sediakan di jok belakang, dan memakainya dengan cepat. Aku termangu melihatnya.

“Astaga! Lo ini ga malu apa? Gue ini cewe!”

“Terus? Masalah? Bilang aja seneng liat yang begituan.” Balasnya polos.

“IH!!!” kataku sambil memukulnya bertubi-tubi, sampai dia mengatakan kata ampun. Aku begitu kesal dengan sikapnya ini. Tapi, sungguh. Ini pertama kali kami bertemu, berkenalan, tapi sudah banyak hal yang tak terduga terjadi. Dia ini cowo yang paling aneh yang pernah kutemui.

Kukira saat dia menyalakan mobil kami akan langsung melesat meninggalkan temapat kursus kami. Tapi setelah menyalakan mobilnya dia seperti teringat sesuatu lalu mengambil sebuah benda dari jok belakangnya, aku haya bisa memperhatikannya. Dia memegang sebotol parfum laki-laki, sebuah senyum berkembang di wajahnya, melihat perfume itu. Aku hanya bisa mengerutkan dahi, terlihat kebingungan. Dia langsung menyemprotkan isinya ke seluruh badannya.

“Csssttt” seketika aroma maskulin yang berasal dari parfumenya menyebar dengan cepat, sehingga tak ada ruang untuk tidak menghirup aromanya yang maskulin.

“Uhuk! Uhuk!” aku terbatuk-batuk begitu bau parfum tersebut memenuhi isi mobilnya.

“Kenapa? Harumnya enak ko rasa coklat.” Katanya riang seakan dia sedang memamerkan mainan terbarunya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lakunya.

“Engga. Baunya ga enak, aku ga suka tuh” jawabku sambil melihat tangan kesal dan menatap ke arah depan. Aku masih bisa menghirup aroma parfumnya ini, begitu maskulin.

“Masa? Coba cium sekali lagi deh, enak ko baunya!” katanya memberikan parfumnya padaku, aku menatap parfumnya dengan nanar.

“Oh ya. Buat kamu aja sekalian, soalnya yang itu udah mau habis, lagian aku udah beli yang baru ko.” Katanya seraya menyimpan parfumnya itu di atas pangkuanku. Setelah itu baru kami meninggalkan tempat kursus kami.

Bagiku hari itu adalah hari paling aneh yang bisa ku rasakan. Waktu demi waktu kamu dan aku tanpa dikira menggoreskan tinta diatas kertas yang begitu putih, menyusun kenangan yang kita lalui bersama. Kini aku terbiasa dengan parfumnya yang begitu maskulin yang menyambut hidupku saat aku memasuki mobilnya. Lama-lama aku terbiasa dengan hadirnya di sisiku. Aku bisa mengenal kehangatan, kehangatan yang di berikan olehmu. 

Aku belajar menari di bawah hujan dan diajar untuk mengenal apa itu kebahagiaan. Kami tetap berusaha tertawa di sela kesedihan yang menerpa. Dan kita membangun sebuah kisah, kisah yang begitu banyak mimpi yang kita buat. Merajut sebuah kenangan yang begitu manis, melipatnya dan menyimpannya di kotak hati kami masing-masing.
***
Ya, tentu saja aku masih ingat pertemuan pertama kita. Pertemuan yang indah. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kamu menghilang saat aku menunggumu di ruang kelas. Aku tersadar bahwa hari itu aku hanya menunggu kekosongan. Aku tidak pernah terlihat batang hidungnya lagi. Dia meninggalkan aku dengan rumus-rumus yang berjumpalitan di papan tulis putih itu. Padahal aku sudah menatap pintu kelas berharap ada sosokmu di balik pintu itu, tapi kau tak kunjung datang.

Aku masih memegang erat botol parfum yang kutemukan tadi. Menghirup lagi aromanya dalam-dalam, mengingat-ingat aroma tubuhnya yang dapat kugapai saat kesedihan melanda. Kukira kita akan memiliki kisah dengan akhir seperti novel-novel yang pernah ku baca. Aku tersadar bahwa aku begitu merindukan sosoknya. Aku selalu tenggelam dalam lautan rindu yang aku ciptakan sendiri.

Tapi inilah akhir ceritanya, sudah benar-benar berakhir. Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk menapaki jalan yang sama sambil bertautan tangan. Ada kalanya tautan tangan itu harus terlepas. Mungkin di jalanku aku akan menemukan sosok yang akan mengganti dirimu, tapi itu belum pasti.

Jika memang kamulah orang yang tepat untukku, Tuhan akan membuat sebuah jalan yang menghubungkan jalanmu dan jalanku di ujung sana, di satu titik di mana kita akan bertemu lagi, berbekal dengan kerinduan dan cinta.

Aku mengembalikan parfum itu ke tempat asalnya. Berusaha tersenyum melihatnya, tapi hanya senyum lirih yang aku ciptakan. Aku memandang ke luar jendela, hujan deras. Aku dapat melihat kamu dengan senyummu itu, Nico. Hanya tawanya yang menggaung dalam pikiranku, dan wajahnya yang dengan jelas memaparkan senyumnya yang menawan. Aku menciptakan hujanku sendiri, hujan untukumu. Hujan itu adalah air mata.



Sabtu, 31 Desember 2011

Sebuah Perpisahan

Mungkin kini akhir dari cerita kita, mungkin ini memang sudah berakhir. Aku berpegang teguh dengan perasaanku dan kamu memegang prinsipmu sendiri. Mungkin memang kita tidak di takdirkan untuk menapaki jalan yang sama sambil bertautan tangan. Ada kalanya tautan tangan itu harus terlepas karena sebuah ketidaksamaan. Ketidaksamaan pikiran, ketidaksamaan pendapat, dan ketidaksamaan perasaan.

Tidak ada yang harus di bohongi sekarang, selama ini aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika mata ini terbuka di pagi hari, sapaan selamat pagi darimu mengalun lembut mengelus gendang telingaku. Saat siang hari di sela kesibukanmu kamu masih sempat mengingatkanku untuk makan. Ketika sore datang telingaku selalu ada untukmu mendengarkan cerita serumu bersama dengan lelahmu yang bahagia. Begitu banyak kebahagiaan yang kita ciptakan, begitu banyak kenangan yang kita buat, begitu banyak mimpi yang kita bangun. Sampai sebuah perpisahan melindas habisa semuanya, hanya menyisakan sayatan luka di hati.

Dan akhirnya saat itu mendatangi kita lalu pergi meninggalkan kita dengan hati yang sudah terpisah. Sebuah perpisahan adalah tahap yang paling tidak di inginkan oleh siapapun, termasuk kita. Kita harus menapaki jalan masing-masing. Aku temukan jalanku dan kamu menemukan jalanmu. Mungkin nanti bayang-bayangmu akan mengiang bersamaan dengan rindu yang menginjak-injak hati ini. Mau tidak mau memori tentangmu harus ku hapus, agar aku bisa melanjutkan semuanya tanpa bayang-bayangmu yang menghantui dan kenangan yang menyeruak dari otakku.

Jika memang kamulah orang yang tepat untukku, Tuhan akan membuat sebuah jalan yang menghubungkan jalanmu dan jalanku di ujung sana, di satu titik di mana kita akan bertemu lagi, berbekal dengan kerinduan dan cinta. Belajar mengikhlaskan, setelah ini akan ada sebuah kebahagiaan yang mengecup kamu bertubi-tubi menggetarkan kembali hatimu dan hatiku. Dan nanti semua kembali dari awal akan ada sebuah pertemuan, sebuah perkenalan, sebuah kisah manis, dan sebuah perpisahan. Itulah siklusnya semua akan kembali ke titik awal.

Jalani dan nikmati semuanya. Belajar mengikhlaskan, mungkin setelah ini akan ada seseorang yang menyelinap masuk dalam hatimu dan hatiku dan memberikan sebuah kehangatan yang akan menemani. Tidak semua perpisahan mendiskripsikan sebuah kesedihan, sebuah penyesalan. Tidak ada yang harus di sesali dari sebuah pertemuan manis kita, kita bahagia di buatnya. Syukurilah, bahwa kita sudah di pertemukan, ini bukan keinginan kita, ini sebuah rencana yang sudah di siapkan oleh Tuhan, jalanilah.

Dibalik sebuah pertemuan kita, banyak pelajaran yang bisa kita petik. Sebuah kebersamaan, sebuah kepercayaan, sebuah kebahagiaan, sebuah kehangatan, semuanya akan menjadi pelajaran untukmu dan untukku. Seiring waktu berlalu ini semua akan menjadi sebuah kenangan yang sudah di simpan manis dalam kotak memori kita masing-masing.

-Ntsy :)




Selasa, 27 Desember 2011

Mempunyai Harapan dan Berpegang pada Janjimu

Lihatlah ini, bulir-bulir hujan yang menemaniku sekarang. Bulir-bulir yang membuka luka di hati ini. Luka yang kamu lukiskan padaku. Kehilangan kamu seperti kebahagiaanku kamu ambil semuanya. Kenapa aku tidak siap? Karena kamu begitu cepat meninggalkanku. Waktu terus berlalu tapi aku tetap mau menunggumu di sini. Entah kekuatan magis apa yang memelukku begitu erat. Tapi aku masih ingat pesanmu waktu itu. ‘Jika aku pergi dari hadapanmu, tunggulah aku, aku akan kembali’

Aku bersungguh-sungguh menunggumu, untukmu. Ada yang pernah bilang bila berani mencintai sesorang kita harus berani menerima bagaimana jika cinta itu pergi. Ini kah rasanya bagaimana jika cinta itu pergi? Apa sih sebenarnya cinta itu? Semua orang bilang mereka punya cinta. Sesakit-sakitnya cinta, cinta begitu banyak di incar semua orang, semua orang membutuhkannya. Begitu juga dengan diriku, aku mencarimu, menunggumu, membutuhkanmu.

Kukira seiring berjalannya waktu perasaanku akan meluntur. Kenyataannya tidak, seiring berjalannya waktu kerinduan menggerogoti labirin di hatiku, labirin yang penuh dengan kehampaan. Kamu yang mengajarkanku bagaimana berimimpi, kamu yang mengajarkanku bagaimana manisnya cinta itu, kamu yang mengajarkanku bagaimana kerinduan seseorang yang menyesakkan. Aku bisa merasakannya sekaligus.

Hatiku masih membara tentang dirimu. Hatiku masih di warnai tentang dirimu. Hatiku masih menunggumu di sini. Jangan biarkan aku yang sudah menunggumu di sini dengan harapan dan janjimu itu di bayar dengan kepergianmu tanpa pamit, tanpa sebuah pengakuan.

Begitu aku merindukan tatapan lembut ketika mataku bertabrakan dengan tatapanmu. Begitu aku merindukan suara tawamu ketika kesedihan menerpaku, kau mencoba menghiburku. Begitu aku merindukan mimpi-mimpi yang kita rancang sendiri. Begitu aku merindukan tangan yang kokoh menyelimuti tanganku.

Bulir-bulir air ini menambah kerinduanku akan dirimu. Entah kamu ada di mana sekarang.  Gunung-gunung, pulau-pulau, samudra sekalipun yang bisa memisahkan kita, tapi hati ini begitu terpaut akan dirimu di sana. Tahu-tahu kamu selalu hadir dalam baris doaku. Tahu-tahu kamu begitu penting saat mata ini terbuka di pagi hari. Tahu-tahu kamu yang menjadi penyemangat hari-hariku.

Ingatkah kamu saat kita sama-sama menari di bawah rinai hujan? Ingatkah kamu saat kesedihan yang pekat kita masih bisa tertawa bersama? Ingatkah kamu saat kita sama-sama membicarakan kehidupan masing-masing ada antusiasme di mata kita masing-masing?

Hujan yang mengundang menetesnya air mata, yang membuka lubang akan dirimu, yang mengingatkan kembali bahwa kamu tak kunjung datang. Sebuah pertemuan akan selalu ada sebuah perpisahan. Apakah cinta juga begitu? Saat menemukan cinta tersebut cinta itu berpisah, pergi tanpa pamit.

Aku hanya punya sebuah harapan dan berpegang dengan janjimu. Aku menunggumu di sini. Hatiku masih membara akan dirimu. Aku menunggu sebuah pengakuan yang akan keluar dari bibirmu. Dan bulir-bulir hujan ini akan tetap setia menemaniku sampa kamu menemukanku kembali.

-Ntsy

Senin, 26 Desember 2011

Aku Bisa Apa Jika Kamu Sudah Bahagia?


Aku tak mampu untuk melihat dirimu yang begini. Menangisi seseorang yang sudah menyakitimu. Kamu tetap mengharapkannya, walaupun dia tidak mencintaimu lagi. Tidakkah kamu menyayangi air matamu untuk seseorang tersebut? Apakah kamu berpikir lelaki di dunia ini hanya dirinya? Seakan tidak ada lelaki lain yang lebih baik dari dirinya.

Setelah itu kamu akan menutup dirimu. Seakan dunia ini adalah duniamu sendiri, tidak ada orang lain dalamnya. Kamu mempunyai prinsip bahwa orang lain tidak pantas untuk kehidupanmu. Aku mencoba untuk menghiburmu, mencoba untuk keluar dari belenggu hampa yang memelukmu. Tapi kamu tetap nyaman dengan dunia yang seperti itu. Aku mencoba sabar menghadapimu.

Aku tetap percaya bahwa suatu saat nanti kamu akan menemukan sebuah kebahagiaan di luar sana. Maka dari itu aku mencoba menuntun kamu ke kebahagiaan tersebut. Sesorang akan menunjukkan kebahgiaan tersebut. Kebahagiaan yang kamu butuhkan. Mengapa kamu begitu ketakutan dengan kehidupan di luar? Aku tahu kesedihan tersebut masih membeleggumu, mengurungmu.

Semua ini hanya sementara waktu, percayalah. Ketika kamu menemukan seseorang yang begitu mencintaimu, kamu akan bahagia kembali. Lalu kamu akan melupakanku yang sudah menemanimu dan kesedihanmu tersebut. Tanpa kusadari aku begitu sayang padamu, sampai aku membiarkanmu bahagia dengan orang lain. Tapi kamu bahagia kan? Aku bisa apa? Jika kamu sudah bahagia dengan dirinya, ya sudah.
Di luar sana akan ada seseorang yang akan memberikan kebahgiaan yang kamu perlukan. Saat kamu begitu antusias dengan kehidupanmu, kamu lupa akan aku. Aku yang selalu ada di sini, di dekatmu, bukan di luar sana. Aku akan memberikan apa saja jika kamu sadar akan makna aku dalam dirimu.

Ketika kekhawatiran menyelimutimu, aku akan menjadi orang bijak yang mengatakan tidak ada hal yang harus di khawatirkan. Aku memang pengecut, tidak mengatakan bagaimana perasaanku padamu. Karena kamu begitu sayang akan kehidupanmu yang sekarang. Aku akan begitu antusias jika kamu menceritakan lelaki yang baru saja kamu kencani. Walaupun ada rasa nyeri di hati ini, saat kamu menceritakan betapa mesranya dirinya. Walaupun ada rasa sesak, saat dirinya memperlakukan dirimu bagaikan seorang putri.

Aku hanya bisa memandang kebahagiaanmu, sedangkan kebahagiaanku ada pada dirimu. Aku hanya bisa berkata bahwa aku senang jika kamu merasa bahagia. Aku hanya bisa mengusap air matamu yang jatuh saat kesedihan menerpamu. Semuanya aku hanya bisa, tidak lebih. Aku akan melakukan segalanya. Apa saja. Asal kebahgiaan tersebut selalu ada untukmu. Aku hanya bisa melengkungkan bibir, dengan hati yang tergores.

-Ntsy

Minggu, 25 Desember 2011

Aku Sadar Karena Dirimu

“Kamu egois tau?!” bentaknya.

“Maksud kamu apaan sih?” tanyaku masih tidak mengerti.

“Aku capek dengan semua kelakuan kamu!” katanya sambil membentangkan jarak antara aku dan dirinya.

“Kelakuan aku yang mana?!” kataku dengan suara naik satu oktaf karena permainan kata ini.

“Semua kelakuan kamu sama aku! Kamu mau aku begini dan begitu. Kamu selalu marah dengan hal-hal kecil yang sudah aku perbuat. Kamu selalu melakukan apa saja yang kamu perbuat tanpa pendapatku.” Akhirnya ada penjelasan yang bisa aku serap dari pembicaraan ini. Aku tatap matanya, mencari kesungguhan di sana. Aku memperhatikan pergerakan emosi di wajahnya, mencari kejujuran di sana. Hening melingkupi kami berdua. Dia laki-laki yang aku cintai dalam hidupku. Dan baru kali ini dia mengungkapkan hal seperti ini. Tidak setuju dengan sikapku.

“Apa ini berarti kamu berhenti mencintaiku?” tanyaku dengan suara getir, aku berusaha terlihat kuat.

“Aku terus-menerus mencoba melindungi perasaanmu, walaupun perasaanku tak akan lindungi, demi kamu.” Lanjutku masih dengan suara getir.

“Aku berkata seperti itu bukan karena aku tidak sayang sama kamu. Aku hanya ingin intropeksi diri kamu.” Katanya menimpali. Air mataku mengalir dalam suasana hening kita kami ciptakan. Padahal aku sudah sekuat tenaga terlihat kuat di hadapannya, tapi tidak bisa. Aku benci suasana ini.

“Karena kamu begitu berusaha melindungi perasaanku, kamu lupa dengan dirimu sendiri. Aku khawatir sama sikap kamu yang mulai berubah…”

“Aku berubah karena dirimu.” Aku memotong kata-katanya.

“ Aku mengerti. Aku sayang sama kamu, makanya lihatlah dirimu yang sekarang. Menyuruhku begini dan begitu, padahal kamu sendiri terlihat begitu kacau. Biarkan aku begini adanya, pandanglah aku sebagai seorang yang kamu sayang. Tolong terima aku apa adanya.” Penjelasannya membuat air mataku semakin deras. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, aku juga mencintai lelaki ini apa adanya, aku hanya mau dia menjadi lebih baik.

“Aku memang begini! Aku mungkin bukan wanita yang kau harapkan, bukan seperti mantanmu yang lain, yang selalu mengerti dirimu lebih baik di banding diriku! Kalau begitu mengapa kamu mempertahanku? Tidak mengerjar mereka yang lebih baik daripada diriku?” ucapku dengan nada yang tinggi, air mataku terus mengalir, semakin deras.  Wajahnya semakin khawatir menatapku.

Aku frustasi dengan kata-katanya. Wanita memang tidak bisa di kendalikan dengan baik emosinya. Aku sudah berusaha berbicara dengan baik. Sebelum putus asa aku merentangkan lenganku dan menggapai tubuhnya melindungi tubuhnya dengan lenganku.

“Aku memilih kamu, bukan wanita lain. Aku menyayangi kamu, bukan wanita lain. Aku mencintai kamu, bukan wanita lain. Buat apa aku mau menjalin hubungan dengan kamu jika aku tidak mencintaimu? Aku hanya khawatir denganmu. Karena aku sayang padamu.” Aku mendapatkan kehangatan dari kata-katanya. Aku dapat merasakan jantungnya berdesir.

Dia melepaskan pelukanku dengan pelan. Aku membiarkannya. Dia menatapku dengan matanya yang indah. Ya, mata itu salah satu mengapa aku jatuh cinta dengannya. Tatapan yang lembut selalu menyambutku saat aku memandang matanya. Lalu dia menggenggam tanganku dengan kuat. Aku membalasnya.

“Wanita yang menatap lelaki dengan lembut dan menggenggam tangan lelaki dengan hangat di hari natal adalah cinta.” Aku tersenyum.

“Lelaki yang memandang wanita dengan lembut dan membalas genggaman wanita di hari natal adalah cinta.” Balasnya juga sambil tersenyum.

Kini aku mengerti, aku mencintai lelaki ini dengan gila. Sampai-sampai aku melupakan diriku sendiri. Aku bersyukur mempunyai kekasih sepertinya. Aku di ingatkannya, aku di khawatirkannya. Inilah yang namanya cinta. Saat pasanganmu mencoba mempertahankan sebuah hubungan dengan intropeksi diri, agar hubungan tersebut menjadi teguh.

-Ntsy J

Sabtu, 24 Desember 2011

Mencintaimu Diam-diam

Ah, itu dia kau. Berjalan dengan santai menuju lapangan dan bergabung dengan temanmu. Tiba-tiba senyummu merekah karena kau diterima untuk bergabung dalam permainan. Padahal hanya melihat saja. Betapa kuat rasa yang sesak akan kamu di hatiku. Adakah harapan? Ya, harapan bahwa garis hidup kita akan bertabrakan. Aku tidak berani berharap. Biarkan ini tetap begini saja.

Aku bukan wanita cantik yang menjadi idaman semua pria. Tapi, bolehkah aku mengidamkan kamu? Kamu yang sangat sulit untuk di gapai. Kamu yang di kerumuni orang-orang yang mengagumimu juga. Sedangkan aku? Aku akan duduk di tempat paling terpencil memperhatikanmu dari sini. Menikmati lengkungan senyummu yang menawan, suara tawamu yang renyah mengelus gendang telingaku.

Sekali lagi, bolehkah aku berharap? Walaupun aku sangat ingin. Tapi, adakah secercah harapan itu? Walaupun sangat kecil. Darimana datangnya perasaan ini? Entah, dia tiba-tiba menyergapku, menyeringai bagaikan itu bukanlah suatu hal yang perlu di khawatirkan. Menyusup bagai maling yang handal, tanpa tahu dia sudah mengisi relung-relung yang hampa ini. Sanggupkah perasaan ini terbendung terus-menerus, makin membesar, makin sesak. Sampai semua penuh akan dirimu.

Jalanan yang ramai di penghujung tahun ini membuatku tersenyum. Di akhir tahun ini, genap sudah aku mencintai dirimu selama dua tahun. Tahukah kamu? Selama dua tahun aku mencintaimu tanpa dapat memilikimu, walaupun kamu nyata. Kadang orang menyimpan sendiri perasaannya menjadikannya rahasia kecil yang menyenangkan. Kamu rahasia kecilku yang sangat special. Aku menjalani hariku selama dua tahun ini dengan kamu, dalam arti yang berbeda tentu saja. Aku menjalani hidup dengan senyummu, dari permainanmu di lapangan, dari caramu berlari, dari caramu berjalan, semua hanya bisa aku lihat dari jauh.
Aku menemukan sebuah Gereja yang kecil di penghujung jalan. Interiornya yang apik mengundangku untuk masuk. Malam natal, Gereja mengadakan ibadah. Aku berdoa, berdoa untuk kamu, ya tiap hari kamu selalu muncul dalam doaku. Aku hanya ingin Tuhan memberikanmu kehidupan yang damai, tetap penuh dengan senyummu yang menawan. Doaku selalu besertamu, percayalah. Kamu juga, berdoalah terus untuk hidupmu. Perjuangkanlah apa yang kamu inginkan. Haruskah aku terus memperjuangkan kamu, kamu yang tak tahu kapan akan datang. Akankah aku akan terus menunggumu di sini? Menunggu yang tidak pasti.

Aku melangkah keluar Gereja dan menikmati malam natal yang indah ini. Kapan aku bisa menghabisakan malam natal bersamamu? Ada tangan yang bisa kugapai untuk mendapatkan sebuah kehangatan. Mungkin ini saatnya? Melupakanmu? Aku tak yakin aku bisa. Tak apa mencintaimu tanpa memilikimu. Tapi, sanggupkah aku? Aku melihat bintang yang menghiasi malam natal yang indah ini. Menangis sebentar dan aku melanjutkan hidupku. Ya, hanya sebentar. Biarkan air mata ini jatuh untukmu, selanjutnya mungkin tidak aka nada porsi air mata lagi untukmu. Ya Tuhan, aku mencintai dia, tapi aku tak bisa tanpa memilikinya, berikan dia apa yang terbaik. Doaku selalu besertamu, percayalah.

-Ntsy

Jumat, 23 Desember 2011

Demi Sahabat

Pernahkah kau merasakan hal ini? Terjebak dalam situasi yang paling menyebalkan. Saat dia bilang bahwa dia akan menyayangimu dan mencintaimu. Bualan cinta yang klise. Aku hanya bisa menatapnya dengan nanar. Aku sadar bahwa aku juga begitu mencintai pria ini. Tapi aku tak bisa. Pentingkah dia daripada sahabatku sendiri? Otakku hilir mudik memirkan hal ini. Begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi, jika aku salah memilih langkah. Aku tahu perasaannya lama sebelum ini. Bagaimana ia menyapaku, mengajakku ke salah satu tempat, dan menghiburku di kala sedih. Aku tahu.

Tidakkah dia tahu? Bahwa sahabatku lebih mencintai pria ini? Makanya aku tak bisa. Sahabat segala-galanya. Aku masih ingat saat sesi cuhat dia mengatakan bahwa ia mengatakan dia naksir padamu. Berawal dari itu sesi curhat kami selalu di warnai oleh namamu, sikapmu, keluargamu, segala macam berbau kamu. Tidakkah kamu tahu? Diam-diam kami seorang stalker yang hebat. Aku senang melihat wajah sahabatku yang malu-malu ketika tahu ada kau di sekitar kami, aku ikut tersenyum.

Aku berusaha keras tidak mengindahkan gerak-gerikmu. Saat kau diam-diam melirik kami. Aku memberitahu ke sahabatku bahwa kau melirik dia tadi, dan aku senang sahabatku senang. Walaupun aku tahu kamu melirik ke arahku, bukan ke sahabatku. Kadang sahabatku seorang stalker yang luar biasa. Saat dia mendapat info apapun tentang kau dia selalu kegirangan dan menceritakan semuanya padaku dan aku tersenyum. Dia mengetahui bagaimana hubunganmu dengan keluargamu, bagaimana sikapmu dengan wanita lain yang mengerjarmu dengan gila-gilaan, tapi kau hanya diamkan saja, membuat semua wanita itu mundur secara teratur.

Saat prom sekolah tiba, aku tahu kau mencuri pandang ke kami, dan tepatnya aku. Aku sadar saat aku dan sahabatku melewati kamu, kau hanya mendongkak saat aku melewatimu, padahal aku ingin membuatmu melihat sahabatku, bukan aku. Saat acara dansa aku tahu kau menghampiri kami dan sahabatku begitu antusias dengan kehadiranmu. Aku tahu maksudmu. Lalu aku meninggalkan sahabatku saat kau sudah tiba diantara kami, sehingga kau hanya bisa berdansa dengan sahabatku. Dan aku hanya bisa tersenyum miris melihatnya.

Aku selalu bersama-sama dengan sahabatku. Dia segalanya. Dan aku tidak mau kami berdua hancur karena seorang pria. Aku hanya ingin kamu mencintai dia bukan aku. Biarkan sahabatku yang bahagia, dan aku akan ikut bahagia melihatnya. Walau dia bahagia karenamu.  Aku selalu mendukung hubungan sahabatku itu denganmu, memberi semangat bahwa kau juga menyukai sahabatku. Bukan aku.

Dan kini kau berdiri di hadapanku menunggu jawabanku. Dan aku tak akan pernah bisa. Aku begitu mencintaimu dan sahabatku. Pergilah dan tinggalkan aku. Datanglah padanya, dan bilang bahwa kau begitu mencintainya, jika kau mencintaiku. Aku tahu cinta takkan bisa di paksakan. Maka dari itu jalinlah hubungan yang baik dengannya. Bangunlah cerita cinta yang indah, dan aku aku bahagia melihat kamu yang aku cinta dengan sahabatku. Dan suatu hari nanti aku juga akan berjanji, aku akan menemukan sosok yang akan kucintai setelah kamu. Tapi aku tidak janji aku bisa.

Aku hanya bisa terus memandang langit yang mengabu. Dan saat rintik hujan menyambut kesedihanku, menyambut lukisan luka yang kau berikan, menyambut penyesalanku. Aku hanya bisa memandang langit. Agar air mataku tidak bisa jatuh. Karena ini kulakukan demi sahabat.

-Ntsy-

Selasa, 29 November 2011

"Pengurus MOS Harus Mati" a novel by Lexie Xu


Awalnya, Hanny Pelangi merasa gembira karena diminta oleh pacarnya, Benji, untuk menjadi salah satu pengurus MOS. Ia bahkan rela meninggalkan Jenny sahabatnya di Singapura dan kembali ke Indonesia hanya untuk memenuhi permintaan itu. Bersama dengan anggota Pengurus MOS lain—Ronny sang kapten tim basket yang plontos; Peter sang ketua Kelompok Pers Remaja yang congkak; Ivan sang wakil ketua OSIS yang cengeng; Violina yang kecentilan dan Mila yang lembut dan feminin (keduanya sekretaris OSIS); dan Frankie, sang biang onar yang membuat Hanny keki pada pertemuan pertama mereka—Hanny lantas mengarang enam kisah horor untuk diceritakan kepada murid baru. Mereka pikir itu akan seru, dan apa yang akan mereka lakukan itu akan membuat para murid baru itu tersiksa....
...Sampai cerita horor karangan mereka mulai menjadi kenyataan.
Benar, satu demi satu pengurus MOS yang mengarang cerita itu mengalami kejadian yang sama persis dengan cerita karangan mereka. Berbagai spekulasi pun bermunculan mengenai penyebab mengapa berbagai peristiwa naas yang mengerikan itu terjadi. Kutukan kisah horor, para murid baru yang dendam pada pengurus MOS, ada pihak yang tidak senang dengan mereka... Bersama dengan Frankie yang senantiasa membuatnya deg-degan, Hanny mencoba menyibak misteri di balik kejadian-kejadian ganjil ini.
Namun, semuanya mulai terasa membingungkan saat ia menyadari satu hal. Semua petunjuk tentang pelaku kejadian ini mengarah pada Jenny, sahabatnya.
***

TADAAAA! Inilah buku kedua dari novel OBSESI. Dan aku harus memberikan alasan pada mba Lexie dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku datang ke tempat peminjaman buku bersama 2 temanku dan langsung menyerbu bagian novel, siapa tahu ada novel baru yang menarik, dan ternyata temanku mendapatkan novel yang langsung dia tarik dari rak buku, tiba-tiba temanku yang satu ini berteriak histeris dan aku yakin mampu menarik perhatian semua pengunjung saat itu. Karena penasaran aku mendekat ke temanku yang kukira sudah gila—dan ternyata aku langsung berbinar-binar saat melihat apa yang membuat temanku histeris tadi. Aku melihat novel dengan judul “Pengurus MOS Haru Mati”. Lalu, temanku yang satu nimbrung “AKU MAU PINJEM!” Sial. Pikirku pasti aku yang menjadi terakhir meminjam buku ini diantara mereka. Temanku yang menemukan duluan pasti peminjam pertama dan temanku yang nimbrung menjadi peminjam kedua jadi udah pasti aku jadi peminjam terakhir karena aku kalah cepat. Dan maaf untuk kedua kalinya juga kepada mba Lexie kalo aku tidak membeli buku mba yang kedua ini, karena aku tidak tahu kalau novel mba keluar saat aku hunting di tempat peminjaman buku. Berbeda jalan cerita jika aku sedang hunting ke Gramedia, pasti sudah kubeli.

Nah, dibuku ini lebih menceritakan bagaimana petualangan Hanny sebagai pengurus MOS dengan di dampingi seorang lelaki bernama Frankie. Cerita sangat menarik di mana pengurus MOS mempunyai ide untuk membuat cerita seram tetang sekolah mereka untuk di ceritakan pada murid peserta MOS, yang dengan maksud hanya ingin menakuti mereka. Ada 6 cerita seram yang sudah dibuat-buat oleh pengurus MOS dari 6 orang yang membuatnya.

Cerita yang menarik sekaligus menyeramkan dan sangat horor. Bagaimana tidak? Cerita yang tadinya hanya menjadi bahan untuk menyiksa murid baru itu satu-satu menjadi kenyataan dengan korban yang notabene adalah pengurus MOS yang mengarang cerita tersebut. Semua berpikir bahwa itu semua adalah ulah salah satu muris baru yang tidak suka pada pengurus MOS.

Lalu, Hanny mencari tahu apa yang terjadi di balik semua kejadian yang sudah menimpa satu demi satu temannya—yang pasti selalu di temani Frankie. Mba Lexie sangat pintar dalam menyusun jalan cerita. Di tambah dengan gaya bahasa yang bagus. Tidak jauh beda dengan buku pertama, dibuku kedua ini juga pasti ada rasa was-was ketika membacanya, deg-degan, dan tangan berkeringat.

Tapi dibuku kedua ini mungkin sempat ada rasa lega, karena tokoh Johan tidak muncul—salah besar. Lagi-lagi aku harus mengakui bahwa mba Lexie memang keren. Dan mulai nanti tidak akan meremehkan novel mba Lexie dengan percaya diri aku menebak siapa pelaku dari kejadian tersebut. Karena di akhirnya cerita nama Johan keluar sebagai dalang lagi. Dan bulu kudukku langsung merinding membaca nama Johan sebagai dalangnya.

Ending yang sangat ‘WOW’ karena akhirnya Hanny bersama Hanny dan mau tidak mau aku harus memberi selamat pada Johan karena dia kembali.

-Ntsy-